Trending

Lonjakan Harga Minyak Global Uji Ketahanan Fiskal dan Stabilitas Harga Dalam Negeri

LAUT LEPAS: Penampakan kapal tanker minyak di lepas pantai Dubai - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Kenaikan harga minyak dunia di tengah dinamika geopolitik, termasuk isu konflik yang melibatkan Iran, dinilai menjadi tantangan serius bagi perekonomian Indonesia. Tekanan tersebut berpotensi merambat ke harga bahan bakar minyak (BBM) dan mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Prasasti Center for Policy Studies menilai situasi ini sebagai momentum untuk mengevaluasi keseimbangan antara stabilitas harga, keberlanjutan fiskal, dan ketahanan ekonomi nasional.

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, mengatakan lonjakan harga minyak global hampir selalu diikuti tekanan terhadap kebijakan harga energi domestik. Pemerintah, menurutnya, berada dalam posisi dilematis.

“Dalam situasi harga minyak naik, tekanan terhadap harga BBM domestik tentu meningkat. Jika pemerintah menahan kenaikan melalui subsidi, maka konsekuensinya ada pada peningkatan beban fiskal. Sebaliknya, jika dilepas maka tekanan terhadap inflasi bisa menjadi lebih kuat,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

Ketergantungan Impor Perbesar Dampak

Sebagai negara net importer, Indonesia dinilai sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global. Konsumsi minyak nasional mendekati 1,5 juta barel per hari, sementara produksi domestik kurang dari setengahnya, sehingga ketergantungan terhadap impor masih signifikan.

Piter menjelaskan, dampak kenaikan harga energi tidak hanya dirasakan secara langsung melalui harga BBM, tetapi juga secara tidak langsung lewat peningkatan biaya produksi dan distribusi.

Menurutnya, efek lanjutan tersebut dapat mendorong kenaikan harga barang konsumsi secara bertahap, bergantung pada respons kebijakan yang diambil pemerintah.

Tekanan pada Subsidi dan Ruang Fiskal

Dalam konteks makroekonomi, ruang fiskal menjadi faktor krusial. Ia menyebut setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi energi sekitar Rp50 triliun.

“Tentu ketika harga minyak naik dan kita berada dalam posisi sebagai net importer BBM, akan ada dorongan kenaikan harga BBM di dalam negeri. Tinggal seberapa jauh pemerintah bisa menahan kenaikan itu dan seberapa mampu menjaganya dengan kemampuan fiskal yang terbatas,” ujarnya.

Kombinasi Harga Energi dan Pelemahan Rupiah

Selain harga minyak, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut menjadi variabel penting dalam mengukur tekanan inflasi. Piter menilai kombinasi kenaikan harga energi global dan pelemahan rupiah dapat memperbesar tekanan harga barang impor.

“Dampak perang ini besar. Satu, menaikkan harga BBM. Kedua, mendorong dolar menjadi lebih mahal sehingga rupiah tertekan. Kombinasi keduanya akan membuat harga barang impor lebih mahal dan tekanan inflasi ke depan menjadi lebih besar. Ini yang harus diantisipasi oleh otoritas moneter dan pemerintah,” jelasnya.

Dari sisi sektor riil, ia melihat risiko utama lebih bersumber dari kenaikan biaya energi ketimbang gangguan pasokan fisik.

“Saya tidak melihat indikasi disrupsi struktural dalam waktu dekat. Antisipasi tetap diperlukan terhadap efek rambatan kenaikan biaya energi terhadap sektor produksi dan logistik domestik,” tutur Piter.

Volatilitas Global dan Peluang di Pasar Keuangan

Di tengah ketidakpastian global, volatilitas pasar keuangan dinilai tidak serta-merta memicu arus keluar modal asing. Piter menyebut kondisi fluktuatif justru bisa menjadi momentum bagi investor untuk mengakumulasi aset domestik.

“Gejolak seperti ini tidak otomatis membuat investor keluar. Justru bagi sebagian pihak, ini bisa menjadi timing untuk masuk dan mengoleksi aset-aset keuangan kita,” ujarnya.

Dampak terhadap Umrah dan Haji

Ia juga menyoroti potensi dampak terhadap aktivitas umrah dan haji menyusul pembatalan sejumlah penerbangan menuju Jeddah, Arab Saudi. Jika berlangsung dalam periode panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi sektor perjalanan dan pertumbuhan ekonomi.

“Apabila terjadi pembatasan atau penurunan aktivitas dalam periode yang berkepanjangan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor perjalanan, tetapi juga dapat menimbulkan efek rambatan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik,” ujarnya.

Sumber: Idntimes.com

Lebih baru Lebih lama