Trending

Rupiah Tembus Rp17.400, Ekspor Diuntungkan Industri Impor Tertekan

MATA UANG: Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang semakin melemah - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berada di bawah tekanan dan pada perdagangan Selasa (5/5/2026) menembus level Rp17.400 per dolar AS. Pelemahan ini memberi dampak berbeda di sektor riil: menguntungkan pelaku ekspor, tetapi menekan industri yang bergantung pada impor. 

Berdasarkan data pasar, rupiah pada Selasa pagi bergerak melemah 11 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp17.405 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp17.394 per dolar AS. Level ini menandai salah satu titik terlemah rupiah sepanjang tahun dan mempertegas tekanan yang terjadi sejak awal 2026.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menilai pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif. Menurutnya, depresiasi nilai tukar justru dapat memberi keuntungan bagi sektor-sektor yang berorientasi ekspor.

“Sebenarnya mata uang yang terdepresiasi itu juga banyak manfaatnya, apalagi kalau depresiasi itu terjadi tidak hanya atas nominal exchange rate, namun juga atas real exchange rate,” ujar Eddy, Selasa (5/5/2026).

Kondisi ini menciptakan efek asimetris di sektor riil. Industri berbasis ekspor seperti komoditas, tekstil, dan manufaktur berorientasi luar negeri berpotensi menikmati keuntungan kurs. Sebaliknya, sektor yang sangat bergantung pada impor termasuk energi, pangan, dan industri mesin menghadapi tekanan biaya yang lebih berat.

Tekanan terhadap rupiah juga dipicu faktor eksternal. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penguatan dolar AS dipicu eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong pasar global masuk ke mode risk-off.

“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat, merespons eskalasi di Timteng,” ujar Lukman.

Di tengah tekanan global, pemerintah dan Bank Indonesia disebut terus menyiapkan langkah stabilisasi, termasuk penguatan kerja sama swap currency dengan sejumlah negara mitra. Namun di level domestik, pelemahan rupiah tetap menjadi tantangan serius karena dampaknya langsung terasa pada biaya impor, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Sumber: Liputan6.com

Lebih baru Lebih lama