Trending

Mahasiswa Baru UINSI Samarinda Bersyukur Terima Bantuan Pendidikan GratisPol

SOSOK: Mahasiswa FTIK Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Dwi Fitriani - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, KALTIM – Dwi Fitriani, mahasiswa baru Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, mengaku sangat bersyukur bisa menjadi salah satu penerima bantuan pendidikan GratisPol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Program yang menanggung penuh biaya pendidikan tersebut dinilainya sangat membantu mahasiswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.

Perempuan berusia 19 tahun itu bercerita bahwa ia pertama kali mengetahui program GratisPol pada Agustus lalu, tepat saat hendak mendaftar ke UINSI melalui jalur SPAN-PTKIN.

“Waktu mau daftar kan saya jalur SPAN, tapi langsung diarahkan pakai jalur GP saja,” ujarnya, Jumat (28/11/2025).


SPAN, katanya, merupakan jalur masuk berbasis rapor, sementara GP atau GratisPol adalah program beasiswa yang menanggung seluruh biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Dwi mengaku proses pendaftarannya cukup mudah karena hanya memerlukan identitas, domisili, serta beberapa dokumen bermaterai.

Ia mengetahui program ini dari gurunya saat masih bersekolah di MA PPKP jurusan IPS. “Guru saya yang merekomendasikan ikut GratisPol, karena saya jalur rapor juga,” jelasnya.

Dwi memilih Prodi MPI sesuai saran ibunya yang mendorongnya menempuh pendidikan di bidang keguruan. Ia pun menargetkan dapat menjadi guru sekolah dasar di masa depan. Meskipun sempat memiliki banyak cita-cita, mulai dari arsitek hingga desainer, ia menyebut pilihan orang tua tetap menjadi pertimbangan utama.

“Bisa saja hobi menggambar tetap dijalani, tapi fokus saya belajar untuk menjadi guru. Ini pilihan orang tua, saya ikut saja, biasanya kan pilihan orang tua itu baik,” katanya.

Dwi menambahkan, GratisPol turut memotivasi dirinya untuk belajar lebih giat karena keberlanjutan bantuan pada tahun berikutnya bergantung pada capaian IPK. “Syaratnya enggak masalah, malah bisa memacu semangat belajar,” tuturnya.

Mahasiswi yang berasal dari keluarga sederhana, ayah bekerja di tambang di Separi dan ibu sebagai ibu rumah tangga mengatakan program ini sangat meringankan beban orang tuanya. Saat ini ia tinggal di kos dengan biaya sekitar Rp1 juta per bulan dan harus mengatur uang jajan sesuai kebutuhan.

“GratisPol bantu banget. UKT ditanggung semua, bahkan sangat membantu untuk biaya kos dan jajan,” ungkapnya.

Dwi pun berharap program GratisPol dapat terus dilanjutkan karena memberikan dampak besar bagi mahasiswa di Kalimantan Timur.

“Saya harap program ini terus dilanjutkan,” tutupnya.

Penulis: Dy

Lebih baru Lebih lama