![]() |
| Diskusi Kampung Buku membahas seputar monumen "Kayuh Baimbai" menghadirkan narasumber maestro seniman lukis Misbach Tamrin, Sumasno Hadi, Subhan Syarief dan moderator Ketua DK Banjarmasin, Hajriansyah. (Foto: ist) |
RILISKALIMANTAN.COM - Polemik tentang pembongkaran monumen taman gerbang "Kayuh Baimbai" yang berada di perempatan Jalan Pangeran Antasari Banjarmasin, terus menggelinding. Dimulai dengan keluarnya pernyataan sikap Dewan Kesenian Kota Banjarmasin yang memuat empat butir pernyataan. Kemudian berlanjut dengan berbagai pemberitaan media dan tulisan kritis pengamat dan aktivis yang ada di Kota Banjarmasin.
DK Banjarmasin menyampaikan apresiasi terhadap ikhtiar mempercantik kota yang dilakukan Pemko Banjarmasin. Namun pilihan mengeksekusi penataan ruang dengan meniadakan monumen sebagai karya seni publik tersebut dianggap sebagai langkah yang ahistoris dan kurang selaras dengan nilai-nilai artistik.
"Jika monumen itu sempat melusuh oleh waktu, ia sejatinya merindukan sentuhan perawatan dan konservasi yang bermatabat, bukan kepunahan di bawah dentuman palu besi," ujar Hajriansyah, Ketua DK Banjarmasin dalam pernyataan sikapnya tertanggal 29 Juli 2026.
Menurut DK Banjarmasin monumen tersebut digubah oleh jemari berharga Maestro Misbach Tamrin, seorang penjaga api seni rupa kebanggaan Banua di kancah nasional bahkan internasional. Menghancurkan karya beliau sama saja dengan melipat satu lembar penting dalam buku sejarah estetika "Kota Seribu Sungai".
Monumen Kayuh Baimbai bukan sekadar ornamen pemanis sudut jalan. Ia adalah perwujudan visual dari falsafah gotong-royong kita yang mendalam.
Monumen "Kayuh Baimbai" dibangun pada 1985 dikerjakan oleh pelukis dan seniman monumen banua Misbach Tamrin di era pemerintahan Walikota Effendi Ritonga.. Karya-karyanya banyak dikoleksi tokoh nasional, diantara Menteri Kebudayaan RI, Dr Fadli Zon.
Kayuh Baimbai Jadi Moto Kota Banjarmasin
Sejak berdirinya monumen "Kayuh Baimbai" seiring waktu istilah inipun menjadi populer dan dijadikan tagline atau moto bagi Kota Banjarmasin. Mencerminkan semangat gotong royong, kebersamaan, dan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan tujuan bersama.
Bahkan lagu mars Kota Banjarmasin pun memakai istilah ini, baik judul maupun liriknya. Yakni "Mars Banjarmasin Kayuh Baimbai" diciptakan oleh seniman lagu Banjar almarhum Syarifuddin MS.
Adapun Sekdako Banjarmasin, Ichrom Muftezar, menanggapi polemik seputar monumen tersebut menyatakan, bahwa relief atau monumen "Kayuh Baimbai" karya Misbach Tamrin tersebut tidak dihilangkan.
"Secara teknis struktur bangunan taman relief itu terjadi kemiringan. Dinilai membahayakan kalau seandainya tidak kita lakukan perbaikan segera, karena dikhawatirkan bisa roboh," ungkap Tezar kepada wartawan, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Tezar, Pemko Banjarmasin berkomitmen untuk tetap mempertahankan nilai estetika dan elemen desain asli karya Misbach Tamrin sesuai arahan Wali Kota Banjarmasin. Secara struktur akan diperbaiki, tetapi untuk desain-desain tertentu akan tetap dipertahankan. Pemko Banjarmasin juga berencana akan bertemu dengan Misbach Tamrin.
Dalam diskusi yang digelar Kampung Buku Banjarmasin, 2 Agustus 2026 juga dibahas khusus tentang robohnya monumen "Kayuh Baimbai" yang menghadirkan narasumber Misbach Tamrin (pembuat monumen), Sumasno Hadi, Subhan Syarief dan dimoderatori Ketua DK Banjarmasin Hajriansyah.
Subhan Syarief menyarankan jika monumen itu bisa saja dipindahkan ke tempat lain sebagai alternatif. "Bisa saja relief Kayuh Baimbai itu dipindahkan ke Taman Kamboja atau ke kebun binatang punya Pemko Banjarmasin. Masyarakat bisa paham bahwa istilah Kayuh Baimbai itu lahir dari hasil kolaborasi era Walikota Effendi Ritonga dan seniman Misbach Tamrin saat itu," ujarnya.
Dari polemik ini, yang mendapat tanggapan meluas di masyarakat, kita bisa paham bahwa kesadaran sejarah terhadap perkembangan Kota Banjarmasin yang saat ini akan memasuki usianya ke-500, perlu terus dipupuk. Pemerintah kota bisa saja merancang kota sedemikian rupa, tapi ruang partisipasi publik untuk memberi masukan dan saran juga jangan diabaikan. Karena semuanya untuk kemajuan kota, sesuai moto "Kayuh Baimbai" yang telah disepakati bersama.
Penulis: Khairiadi Asa
