Trending

Wamenko Pangan Panen Cabai di HSS, Soroti Peran Pengendalian Inflasi

MEMETIK: Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq saat panen cabai bersama petani di Desa Tawia, Hulu Sungai Selatan - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL – Panen Cabai HSS mendapat perhatian pemerintah pusat setelah Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, melakukan panen bersama petani di Desa Tawia, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Senin (15/6/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga komoditas strategis yang berpengaruh terhadap inflasi daerah.

Dalam kegiatan itu, Hanif didampingi Bupati Hulu Sungai Selatan H. Syafrudin Noor, Wakil Bupati H. Suriani, unsur Forkopimda, serta sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Pemerintah Kabupaten HSS.

Panen dilakukan di lahan Kelompok Tani Gawi Bersama yang menjadi bagian dari pengembangan program Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN), salah satu program prioritas nasional untuk memperkuat sektor pangan.

Hanif menegaskan bahwa cabai merupakan salah satu komoditas yang memiliki pengaruh besar terhadap tingkat inflasi di Kalimantan Selatan. Karena itu, peran petani dan daerah penghasil cabai seperti Hulu Sungai Selatan dinilai sangat strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga.

“Cabai menjadi salah satu penyumbang inflasi di Kalimantan Selatan. Kontribusi Hulu Sungai Selatan sangat besar dalam menjaga kestabilan harga komoditas ini,” ujarnya.

Menurut Hanif, harga cabai merupakan salah satu komoditas yang sangat dinamis dan dapat berubah dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, pengelolaan rantai pasok dari petani hingga pasar harus berjalan optimal agar tidak merugikan produsen maupun konsumen.

“Kita tahu harga cabai bisa naik turun dengan cepat. Bahkan pergerakan harganya bisa berubah setiap jam. Karena itu, informasi harus dikawal bersama agar rantai pasok berjalan baik dan petani tidak dirugikan,” katanya.

Selain aspek pemasaran, Hanif juga menyoroti tantangan budidaya cabai yang membutuhkan perawatan intensif. Tanaman tersebut dinilai cukup sensitif terhadap perubahan cuaca, terutama saat curah hujan tinggi.

Desa Tawia sendiri diusulkan menjadi bagian dari program KSPEAN dengan rencana pengembangan lahan cabai seluas 20 hektare. Saat ini sekitar 5 hektare lahan telah ditanami cabai oleh Kelompok Tani Gawi Bersama.

Pengembangan kawasan pertanian cabai tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan daerah, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendukung pengendalian inflasi melalui ketersediaan pasokan cabai yang berkelanjutan di Kalimantan Selatan.

Penulis: H. Faidur

Lebih baru Lebih lama