![]() |
| SOSOK: Ketua Posyandu Kota Banjarbaru H. Riandy Hidayat bersama Wali Kota Lisa saat peresmian salah satu Posyandu beberapa waktu lalu - Foto Dok H. Faidur |
RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL – Peringatan Hari Posyandu Nasional 2026 menjadi momentum bagi Kota Banjarbaru memperkuat peran Posyandu sebagai garda terdepan layanan dasar berbasis masyarakat yang kini tak lagi hanya berfokus pada sektor kesehatan.
Posyandu di Banjarbaru kini diarahkan menjadi pusat layanan terintegrasi dengan cakupan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, hingga ketenteraman masyarakat.
Ketua Posyandu Kota Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, menegaskan perubahan peran Posyandu harus diikuti penguatan di tingkat lapangan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Posyandu hari ini tidak lagi hanya identik dengan imunisasi atau penimbangan balita, tetapi telah bertransformasi menjadi pusat layanan terintegrasi yang mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kota Banjarbaru sejak 2025 menggulirkan Gerakan Aktifkan Posyandu untuk mendorong seluruh Posyandu kembali aktif secara rutin dan melayani seluruh kelompok usia.
“Melalui Gerakan Aktifkan Posyandu ini, kita ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong, kepedulian, dan partisipasi aktif semua pihak. Kami berharap Posyandu dapat buka setiap bulan dan melayani seluruh siklus hidup, mulai dari ibu hamil, menyusui, bayi, balita, anak sekolah, remaja, usia produktif hingga lansia, dengan minimal lima kader aktif,” kata Riandy.
Menurut dia, optimalisasi Posyandu menjadi kunci dalam mendekatkan layanan dasar sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Posyandu juga dinilai berperan penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak serta percepatan penurunan stunting melalui deteksi dini dan intervensi lebih cepat.
Namun, perluasan fungsi Posyandu juga menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi keaktifan layanan dan meningkatkan kapasitas kader di lapangan.
“Perubahan ini membutuhkan komitmen bersama. Kader Posyandu bukan hanya pelaksana, tetapi agen perubahan yang mengedukasi dan menggerakkan masyarakat,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan, hingga RT/RW dan masyarakat, untuk memperkuat sinergi dalam mendukung Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan dasar.
“Posyandu tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar pelayanan yang merata dan inklusif benar-benar terwujud,” kata Riandy.
Momentum Hari Posyandu Nasional 2026 juga menjadi bentuk apresiasi bagi para kader yang selama ini berada di garis depan pelayanan masyarakat.
Dengan perluasan fungsi dan dukungan kolaborasi lintas sektor, Posyandu di Banjarbaru diharapkan tak hanya menjadi pusat layanan kesehatan, tetapi juga fondasi penguatan kualitas hidup masyarakat.
Penulis: H. Faidur

