Trending

Ultimatum Donald Trump ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

KAPAL: Kapal nirawak L3 Harris Arabian Fox MAST-13 milik Angkatan Laut AS dan kapal pemotong USCGC John Scheuerman milik Penjaga Pantai AS melintasi Selat Hormuz - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Harga minyak dunia melonjak pada awal perdagangan Senin (23/3/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Mengutip laporan Channel News Asia, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei sempat naik 1,8 persen hingga menembus USD 100 per barel sebelum mengalami koreksi.

Sementara itu, minyak Brent Laut Utara juga mengalami kenaikan hingga mencapai USD 113,44 per barel, sebelum turun tipis ke kisaran USD 111 dalam 45 menit pertama perdagangan.

Sebagai perbandingan, pada 27 Februari lalu, sebelum eskalasi konflik antara AS dan sekutunya dengan Iran, harga WTI dan Brent masing-masing berada di level USD 67,02 dan USD 72,48 per barel.

Lonjakan harga ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko gangguan distribusi energi di tengah memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat seiring konflik yang telah memasuki pekan keempat. Trump mendesak Iran segera membuka kembali Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia.

Dalam pernyataannya di media sosial Truth Social, Trump memperingatkan bahwa militer AS akan mengambil tindakan tegas jika ultimatum tersebut tidak dipenuhi.

Sebagai respons, pihak militer Iran menyatakan akan menargetkan infrastruktur energi milik AS dan sekutunya di kawasan.

Di sisi lain, Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir menyebutkan bahwa operasi militer akan diperluas dan berpotensi berlangsung dalam jangka waktu panjang.

Situasi ini semakin diperparah dengan meningkatnya serangan rudal dan drone oleh Iran terhadap target energi di negara-negara sekutu AS serta kapal-kapal di kawasan Teluk.

Kondisi tersebut memperbesar risiko terjadinya krisis energi global apabila jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz terus terganggu.

Sumber: Liputan6.com

Lebih baru Lebih lama