![]() |
| AKSI KEMANUSIAAN: Salah seorang demonstran turut menyuarakan penghentian serangan ke Iran - Foto Dok Antara |
RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Iran mengancam akan membalas serangan terhadap infrastruktur energinya dengan menargetkan fasilitas energi di kawasan Timur Tengah, yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak global dalam jangka panjang.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai respons atas ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pembukaan Selat Hormuz.
“Seketika setelah pembangkit dan infrastruktur listrik negara kami diserang, semua infrastruktur vital di seantero kawasan, termasuk infrastruktur energi dan minyak, akan dianggap sebagai sasaran tembak yang sah,” ujar Ghalibaf melalui media sosial X, Minggu (21/3/2026) lalu.
Ia menegaskan, jika serangan balasan terjadi, dampaknya tidak hanya bersifat militer tetapi juga ekonomi, termasuk potensi lonjakan harga energi global.
Ghalibaf menyebut serangan tersebut dapat “menghancurleburkan” infrastruktur listrik di kawasan dan menyebabkan harga minyak melonjak dalam waktu lama.
Ketegangan meningkat setelah Donald Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Hingga saat ini, Iran masih melanjutkan serangan terhadap target militer Amerika Serikat dan Israel sebagai balasan atas operasi militer gabungan kedua negara tersebut sejak 28 Februari.
Dalam eskalasi konflik tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan gugur. Selain itu, ratusan warga sipil, termasuk pelajar, turut menjadi korban dalam serangan yang terjadi di wilayah Iran selatan.
Otoritas Iran menyebut jumlah korban jiwa akibat serangan tersebut telah mencapai sekitar 1.300 orang.
Situasi ini semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan potensi krisis energi global apabila konflik terus berlanjut.
Sumber: Antara.con

