Trending

Pendulangan Intan Cempaka, Warisan Tambang Rakyat yang Bertahan di Tengah Modernisasi

TAMBANG TRADISIONAL: Seorang pendulang intan menyaring material pasir - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL – Aktivitas pendulangan intan di Banjarbaru masih menjadi bagian penting dari identitas pertambangan rakyat di Kalimantan Selatan. Salah satu kawasan yang dikenal luas sebagai sentra intan tradisional adalah Cempaka, yang sejak lama menjadi lokasi pendulangan oleh masyarakat setempat.

Di kawasan Cempaka, pendulangan dilakukan secara manual menggunakan alat sederhana seperti dulang kayu dan sekop. Para pendulang menggali tanah atau pasir yang diduga mengandung batuan intan, lalu mencucinya dengan teknik tradisional hingga tersisa material berat yang berpotensi menyimpan batu berharga.

Kegiatan ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi mata pencaharian turun-temurun bagi sebagian warga. Selain bernilai ekonomi, pendulangan intan juga menyimpan catatan historis penting. Kalimantan Selatan pernah mencatat penemuan intan besar yang mengharumkan nama daerah, yakni Intan Trisakti yang ditemukan di kawasan Cempaka pada 1965.

Namun, pendulangan bukan pekerjaan yang menjanjikan hasil pasti. Para pendulang menghadapi risiko cuaca, kondisi tanah yang labil, hingga ketidakpastian pendapatan. Dalam sehari, tidak semua pendulang berhasil menemukan intan. Sebagian besar hanya memperoleh batuan biasa yang tidak memiliki nilai jual tinggi.

Pemerintah daerah melalui Pemerintah Kota Banjarbaru berupaya menata kawasan pendulangan agar tetap aman dan terkendali. Penataan dilakukan untuk meminimalkan dampak lingkungan sekaligus menjaga potensi kawasan sebagai destinasi wisata edukasi pertambangan tradisional.

Kini, selain menjadi sumber penghasilan, kawasan pendulangan Cempaka juga menarik minat wisatawan. Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses mendulang dan memahami bagaimana masyarakat lokal mempertahankan tradisi tersebut di tengah perkembangan teknologi pertambangan modern.

Pendulangan intan Cempaka menjadi gambaran ketekunan masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara tradisional. Di tengah perubahan zaman, aktivitas ini tetap bertahan sebagai warisan budaya sekaligus simbol harapan akan keberuntungan dari setiap ayunan dulang.

Sumber: MC Banjarbaru 

Lebih baru Lebih lama