Trending

Kuyang dalam Ingatan Kolektif Masyarakat Banjar

 


Oleh: Taufik Arbain
(Foto/ilustrasi: FB Joe Jumberansyah)


RILISKALIMANTAN.COM - Sejak kecil, saya kerap mendengar cerita tentang Kuyang di kampung. Kisah-kisah itu hidup dalam percakapan sehari-hari, bahkan disertai penyebutan nama si A atau si B yang konon menjadi Kuyang. Cerita tersebut hampir selalu berkelindan dengan urusan rumah tangga orang dewasa: relasi suami-istri, kecemburuan, kesetiaan, dan upaya mempertahankan cinta.

Ada pula kisah tentang ilmu-ilmu tertentu yang diyakini mampu membuat seorang suami “tidak memiliki rasa” kepada perempuan lain ketika bepergian ke mana pun. Rasa itu baru kembali ketika ia pulang ke rumah. Dalam kepercayaan yang beredar, ilmu Kuyang termasuk ilmu yang tidak dapat dihilangkan, kecuali diwariskan kepada keturunannya atau “disalin” kepada orang lain yang bersedia menerimanya.

Cerita-cerita itu bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Teman-teman sepermainan saya pun mengetahui kisah serupa. Bahkan, ada yang mengaku pernah melihat langsung penampakannya  sering disebut pula sebagai Hantu Api. 

Kisah ini tidak hanya hidup di satu wilayah. Di kawasan Hulu Sungai, saya juga mendengar cerita tentang Kuyang. Salah satunya kisah di sebuah terminal: seorang Kuyang yang kesiangan pulang, menangis, dan meminta diantarkan ke rumah. Dengan rasa belas kasih, orang-orang pun mengantarkannya. Hingga dekade 1980–1990-an, cerita Kuyang masih sangat ramai dan dipercaya sebagai bagian dari realitas sosial.

Sulit menafikan bahwa kemunculan cerita Kuyang berkaitan erat dengan kondisi sosial masyarakat Banjar pada masa lalu. Masyarakat Banjar relatif padat penduduk dibanding kawasan lain di Kalimantan. Kondisi geografis yang sulit, perjalanan berhari-hari dengan berjalan kaki atau menyusuri sungai, membuat banyak laki-laki bekerja berpindah dari satu kampung ke kampung lain, baik sebagai pedagang, penebang kayu, maupun pekerja lainnya.

Dalam konteks tersebut, menikah lagi dan membangun keluarga baru di kampung yang didatangi merupakan hal yang relatif lazim. Konstruksi sosial kala itu memberi ruang terhadap praktik tersebut, sementara agama hadir memberikan aturan normatifnya. Tidak sedikit generasi masa lalu yang memiliki kerabat “ se-Abah”,  dan dalam banyak kasus, terbangun ikatan kekeluargaan yang kuat antar saudara meski berbeda ibu. Saling menyayangi menjadi nilai yang ditanamkan.

Namun, jika ditinjau dari perspektif bias gender, posisi perempuan pada masa itu cenderung  subordinat. Tidak semua perempuan sanggup atau rela berbagi, tidak semua siap dimadu, dan tidak semua tunduk pada konstruksi sosial yang berlaku. Bagi sebagian perempuan, pilihan yang dianggap rasional saat itu adalah “menyalin” ilmu Kuyang atau ilmu sejenis, dengan satu tujuan utama: agar suaminya tetap SATU HATI , tidak berpaling kepada perempuan lain. Pantang dimadu, dan maruah keluarrga besarnya.

Dalam relasi ini, berbagai efek dan dampak sosial muncul mulai dari relasi dengan mertua, ipar, hingga lingkungan tetangga. Namun episentrum dari semuanya tetap satu: penguasaan penuh atas cinta suami. Jangan heran jika hari ini muncul semacam konstruksi sosial baru dengan anekdot, " Daripada jadi  jadi Hantu, lebih baik jadi balu, sebab balu banyak yang memburu!!" .  Ini realitas perempuan saat ini tidak lagi subordinat terhadap laki-laki, dan tidak menjadi aib sebagaimana masa lalu.

Ada sebuah kisah yang sangat membekas. Seorang perempuan pemilik ilmu penakluk, menjelang wafatnya, dikisahkan diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk meminta maaf. Ia berkata:

“Abahnya, ulun memohon maaf ampun wan pian, soalnya menambai [mamakani) pian sakira sayang banar wan ulun.”

Kisah ini menunjukkan bahwa di balik praktik-praktik tersebut, ada emosi, ketakutan kehilangan, dan cinta yang sangat manusiawi.

Konstruksi sosial hari ini tentu telah jauh berbeda. Rasionalitas, nilai keimanan, serta penjagaan jiwa dan raga menjadi jauh lebih utama dibanding penggunaan ilmu-ilmu yang berasal dari masa primitif (Banjar Kuno). Yang terpenting adalah bagaimana manusia tetap mampu bertahan hidup untuk keluarga maupun dirinya sendiri tanpa harus menempuh jalan yang berisiko secara spiritual maupun sosial.

Dalam konteks ini, patut diapresiasi para pihak—seniman, artis, dan pembuat film Kuyang—yang mampu mendiplomasikan kebudayaan Banjar masa lalu ke dalam medium film sebagai edukasi kehidupan masa kini, bukan semata sebagai horor, tetapi sebagai refleksi sejarah sosial dan budaya.

Dan tentu, masih banyak kisah lain yang menunggu untuk dituturkan.

Sekali lagi, Salut para pihak, artis dan  pembuat Film Kuyang  yang mampu mendiplomasikan kebudayaan Banjar masa lalu sebagai edukasi kehidupan masa kini. 

(Penulis : Ketua Dewan Kesenian Kalsel, Dosen Fisip ULM)

Lebih baru Lebih lama