Trending

Goldman Sachs Naikkan Target Harga Emas 2026 ke USD 5.400, Sinyal Pergeseran Strategi Investasi Global

ILUSTRASI: Penampakan emas batangan - Foto Dok Istimewa 

RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Goldman Sachs kembali merevisi proyeksi harga emas global untuk tahun 2026. Bank investasi asal Amerika Serikat tersebut kini menetapkan target harga emas di level USD 5.400 per ons, meningkat dari target sebelumnya sebesar USD 4.900 per ons.

Kenaikan target ini mencerminkan perubahan strategi investor yang semakin agresif melakukan diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian kebijakan global.

Mengutip Kitco.com, Senin (26/1/2026), revisi target harga tersebut dinilai signifikan karena dilakukan hanya dalam hitungan pekan. Perubahan ini sekaligus menunjukkan adanya pergeseran pandangan fundamental Goldman Sachs terhadap prospek emas dalam jangka menengah.

Analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven dan Lina Thomas menyebut, investor swasta kini mengikuti langkah bank sentral yang lebih dulu mengalihkan sebagian cadangan dan asetnya ke emas. Emas dipandang sebagai aset aman untuk melindungi nilai kekayaan dari risiko kebijakan fiskal dan moneter global.

Menurut mereka, emas yang dibeli sebagai lindung nilai terhadap risiko makro tidak lagi bersifat sementara. Berbeda dengan strategi hedging berbasis peristiwa tertentu, seperti pemilu atau keputusan kebijakan jangka pendek, posisi emas saat ini dinilai lebih bertahan lama.

Kondisi ini membuat permintaan emas tidak lagi hanya bergantung pada sentimen jangka pendek, melainkan semakin ditopang oleh kekhawatiran struktural terhadap keberlanjutan fiskal dan stabilitas kebijakan ekonomi global.

Bank Sentral dan The Fed Perkuat Fundamental Harga Emas

Goldman Sachs menilai bank sentral negara berkembang masih akan menjadi penggerak utama permintaan emas global pada 2026. Pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan rata-rata mencapai 60 hingga 70 ton per bulan, jauh melampaui rata-rata sebelum 2022.

Para analis menyoroti bahwa langkah bank sentral memperkuat cadangan emas merupakan respons terhadap meningkatnya risiko geopolitik. Pembekuan cadangan Rusia pada 2022 disebut sebagai titik balik yang mengubah cara pandang negara berkembang terhadap keamanan aset cadangan mereka.

Selain itu, porsi cadangan emas sejumlah bank sentral, termasuk People's Bank of China, masih relatif rendah dibandingkan negara maju. Kondisi ini membuka ruang peningkatan pembelian emas dalam jangka panjang, terutama seiring ambisi internasionalisasi mata uang yuan.

Dari sisi kebijakan moneter, Goldman Sachs juga memperkirakan adanya tambahan pelonggaran kebijakan oleh Federal Reserve sebesar 50 basis poin pada 2026. Pemangkasan suku bunga tersebut dinilai akan semakin mendukung daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Dampak Potensial terhadap Pasar dan Portofolio Investor

Dari seluruh komoditas yang dianalisis, Goldman Sachs menempatkan emas sebagai aset paling prospektif. Bank investasi tersebut bahkan menyebut emas sebagai taruhan terbaik dalam keseluruhan kompleks komoditas global.

Selain permintaan bank sentral, minat investor swasta juga terus meningkat, termasuk dari kalangan keluarga kaya dan investor institusi. Pembelian emas fisik maupun instrumen derivatif meningkat seiring kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter jangka panjang negara-negara besar.

Goldman mencatat, porsi emas dalam portofolio keuangan swasta Amerika Serikat masih sangat kecil, yakni sekitar 0,17%, dan belum kembali ke level puncak tahun 2012. Setiap kenaikan kecil alokasi emas dinilai dapat berdampak signifikan terhadap harga emas global.

Sumber: Liputan6.com

Lebih baru Lebih lama