Trending

Rupiah Tertekan Mendekati Rp18.000 per Dolar AS

AI: Ilustrasi pelemahan rupiah - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan dan mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (25/9/2026) pukul 14.15 WIB, rupiah berada di level Rp17.913 per dolar AS.

Pengamat mata uang Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Dari sisi eksternal, tekanan terutama berasal dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury, serta kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi.

“Pelemahan rupiah bukan hanya karena suku bunga The Fed, tetapi juga dipengaruhi kombinasi suku bunga AS, yield dan ekspektasi kebijakan The Fed ke depan,” ujar Lukman kepada Beritasatu.com, Jumat (25/9/2026).

Menurut Lukman, kondisi tersebut membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih cukup besar. Pergerakan rupiah juga tidak hanya ditentukan oleh kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI), tetapi turut dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global.

Dari sisi domestik, pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara turut memengaruhi sentimen investor. Pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah ke depan.

Sebelumnya, muncul kekhawatiran terkait defisit anggaran, belanja pemerintah, serta kredibilitas fiskal. Namun, Lukman menilai faktor tersebut hanya menjadi tambahan tekanan terhadap rupiah, bukan faktor utama.

Lukman menilai pemerintah perlu memberikan kepastian bahwa disiplin fiskal dan batas defisit tetap terjaga. Kepastian tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor dan mencegah tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Dari sisi moneter, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen dinilai belum cukup untuk meredakan tekanan terhadap rupiah.

Menurut Lukman, kondisi tersebut terjadi karena sumber tekanan saat ini lebih banyak berasal dari faktor eksternal. BI tetap mengoptimalkan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus menarik aliran modal asing.

Ia menilai kondisi tersebut bukan berarti kebijakan bank sentral tidak efektif. Namun, ruang kebijakan moneter saat ini menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak dunia.

Lukman juga menilai intervensi saja belum cukup untuk mendorong pemulihan rupiah secara berkelanjutan.

Stabilitas rupiah, menurut dia, membutuhkan perbaikan arus modal asing, stabilisasi pasar saham dan obligasi domestik, serta meredanya tekanan dari dolar AS, yield US Treasury, dan harga minyak.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menjaga kredibilitas dan kepastian kebijakan fiskal sekaligus memperkuat koordinasi dengan BI. Komunikasi kebijakan yang jelas kepada pasar juga penting agar investor dapat melihat arah kebijakan ekonomi Indonesia secara lebih pasti.

Sumber: Beritasatu.com

Lebih baru Lebih lama