![]() |
| Sopian Akup (47), korban selamat asal Bitung dari tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8, tak kuasa menahan emosi dan trauma saat menceritakan firasat buruknya. Foto : rian |
Di atas kapal yang kian miring dan hilang kendali, jeritan ketakutan pecah bersahutan dengan gemuruh ombak.
Di tengah kecamuk badai dan kepungan air laut yang dingin memburu, Sopian Akup (47), seorang sopir truk ekspedisi asal Bitung, hanya bisa terpaku pasrah.
Satu kenyataan pahit terus menancap dan membayangi benaknya di detik-detik mengerikan itu, diriinya sama sekali tidak bisa berenang.
Namun, ketika maut sudah mencengkeram di depan mata, takdir menuntunnya pada sebuah mukjizat yang tak masuk akal.
Firasat Gelap di Parkiran dan Pertanda Mimpi Tenggelam
Jauh sebelum musibah mengerikan itu menelan kapal, benak Sopian sebenarnya telah dihantui gelisah.
Perasaan tidak enak menyelimuti hatinya sejak ia masih memarkirkan truk di area pelabuhan sebelum berlayar. Sebuah mimpi buruk menyeramkan bahkan telah lebih dahulu datang memberi isyarat.
"Kalau firasat saya memang waktu itu saya sedang nggak enak. Firasat saya sebelum naik waktu di parkiran, kenapa saya mimpi tenggelam di kolam," kenang Sopian dengan suara bergetar dan tatapan mata yang masih menyimpal trauma saat ditemui di Hotel Kharisma, Kamis (17/09/2026).
Firasat buruk itu kian menebal ketika rantai kejanggalan mulai terjadi. Saat diminta pihak agen menuju Pelabuhan, perjalanan Sopian mendadak tertahan di pintu masuk lantaran kendala teknis pada sistem barcode, hal ganjil yang tak pernah ia alami selama bertahun-tahun menjadi sopir ekspedisi.
"Saya tertahan di pintu, nggak biasanya kan. Jadi saya telepon pengurusnya, 'Mas gimana ini?', dia gak bisa masuk karena gak ada barcode. Memang niat aja nunggu sih," tuturnya.
Bahkan saat proses masuk ke geladak kapal (loading), atmosfer kerja terasa berbeda. Sopian sama sekali tak ditanyai soal muatan tonase truknya dan langsung diinstruksikan masuk mundur.
Mengenai rumor liar yang menyebutkan ada insiden truk menabrak saat loading, Sopian dengan tegas meluruskan kenyataan tersebut.
"Kalau menurut saya lihat nggak ada sih, tapi kalau menurut teman-teman mobilnya hanya bongkaran. Tapi omong-omong menyebabkan kesalahan, tidak ada," tegasnya.
Detik-Detik Listrik Padam dan Kapal yang Terbalik
Malam mengerikan itu akhirnya tiba. KM Virgo Transport 8 mulai dihantam gelombang dahsyat secara bertubi-tubi hingga posisinya miring ekstrem mencapai 50 derajat.
Hanya dalam hitungan menit, jeritan histeris membumbung tinggi saat listrik kapal mendadak padam total, melempar seluruh penumpang ke dalam kegelapan pekat yang mencekam.
Di tengah kegelapan maut itu, hanya pendar samar cahaya bulan di atas lautan yang menjadi petunjuk arah bagi Sopian untuk bertahan di dek dekat musala.
"Kita cuma berpegangan di pagarnya saja, sampai kapal benar-benar terbalik," akunya dengan nafas tertahan.
Saat kapal akhirnya karam dan tenggelam digulung samudra, Sopian terlempar ke dalam ganasnya ombak.
Terombang-ambing tanpa kemampuan berenang sedikit pun, Sopian berada di titik paling pasrah dalam hidupnya.
Namun, di antara gumpalan buih dan gulungan air setinggi lebih dari 3 meter, tangannya secara ajaib berhasil menggapai sebuah ban pelampung.
Di atas ban pelampung kecil itulah, di bawah dinginnya pendar rembulan dan kepungan samudra yang tak bertepi, wujud sang istri tercinta di Bitung terus membayangi pikirannya.
Bayangan wajah sang istri dan kehangatan doa keluarga menjadi satu-satunya helaan napas yang menyambung nyawanya dari keputusasaan.
Takdir hidup akhirnya memihak. Setelah berjam-jam bertaruh nyawa di tengah lautan, sebuah perahu karet penyelamat yang dimuati sekitar 11 orang berhasil menemukannya dan menarik tubuhnya dari cengkeraman ombak.
Horor Sepenggal Badan dan Keinginan Memeluk Sang Istri
Meski berhasil dievakuasi ke perahu karet, trauma mengerikan belum berakhir. Di tengah lautan luas, mereka sempat melihat sesosok tubuh korban yang terapung-apung.
Namun, niat mulia untuk mengangkat jenazah itu seketika sirna digantikan rasa mendirikan bulu kuduk.
Kondisi jasad korban sudah tak lagi utuh, hanya tersisa sepenggal badan, membuat para survivor yang terguncang tak berani menyentuh apalagi mengangkat jenazah tersebut ke atas perahu.
Bagi Sopian, keberhasilannya menembus maut malam itu bukanlah karena kehebatannya, melainkan murni sebuah mukjizat atas pendar doa yang dipanjatkan dari rumahnya.
"Ini mukjizat. Doa keluarga yang membuat saya tetap bertahan dari ganasnya ombak," ungkapnya haru, menahan napas berat.
Sopian dijadwalkan akan bertolak pulang dari Banjarmasin menuju kampung halamannya di Bitung pada Jumat (17/09/2026) besok.
Tak ada lagi yang ia inginkan di dunia ini selain satu hal: segera melangkah pintu rumah dan memeluk erat sang istri, sosok yang wajahnya tak pernah hilang dari ingatan saat ia bertaruh nyawa di tengah laut.
Setibanya di Bitung nanti, pria yang bertahun-tahun mengadu nasib di jalanan ini memutuskan untuk melepaskan kemudi dan rehat sejenak dari dunia ekspedisi.
Ia membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka batin dan memulihkan kondisi psikisnya yang terguncang hebat pascatragedi mematikan tersebut.
Penulis : rian
