![]() |
| TANGKAPAN LAYAR: Monitoring perkembangan deret Hari Tanpa Hujan bertutut-turut - Foto Dok BMKG |
RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA - Kondisi kemarau masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia dengan periode Hari Tanpa Hujan (HTH) yang panjang hingga ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan dampak kondisi kering terhadap ketersediaan air dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Dasarian I September 2026, sejumlah wilayah mengalami HTH lebih dari 60 hari. Data BMKG menunjukkan HTH terpanjang mencapai 131 hari di wilayah Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
BMKG menyebut kondisi atmosfer yang relatif kering saat ini berkaitan dengan pengaruh El Niño yang berada pada kategori sangat kuat. Pada Dasarian I September 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat +2,76°C, sedangkan indeks ENSO tiga bulanan periode Juli-Agustus-September mencapai 2,6.
Fenomena El Niño tersebut diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027. Kondisi kering yang berlangsung panjang meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
Di Kalimantan Selatan, BMKG juga mencatat sejumlah wilayah mengalami HTH kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari tanpa hujan.
Berdasarkan pembaruan BMKG Kalsel pada 20 September 2026, kondisi HTH ekstrem antara lain terpantau di sejumlah kecamatan di Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru, dan Hulu Sungai Tengah.
Sebelumnya, pemantauan BMKG Kalsel pada 10 September juga menunjukkan HTH ekstrem di Banjarmasin Timur, Banjarbaru Selatan dan Landasan Ulin, serta sejumlah wilayah Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru dan Tapin.
Kondisi tersebut membuat ancaman krisis air bersih, kekeringan lahan pertanian, dan karhutla perlu diwaspadai. BMKG Kalsel mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan langkah mitigasi, terutama di wilayah yang mengalami HTH panjang hingga ekstrem.
Secara nasional, BMKG juga melaporkan kondisi atmosfer kering akibat kombinasi musim kemarau dan El Niño sangat kuat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi karhutla, terutama pada wilayah dengan vegetasi dan lahan yang mudah terbakar.
Masyarakat diimbau menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan. BMKG juga mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan gambut, semak belukar, dan hutan.
Masyarakat yang menemukan indikasi titik api juga diminta segera melaporkannya kepada pihak terkait sebagai bagian dari upaya mencegah meluasnya karhutla.
Sumber: Idntimes.com
