![]() |
| ERUPSI: Anak Gunung Krakatau - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, BANTEN - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih belum mereda. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat emisi abu terus berlangsung, sementara aktivitas kegempaan masih tinggi.
Ketua Tim Tanggap Darurat Pos Pemantauan Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Nugraha Kartadinata, mengatakan emisi abu yang terjadi saat ini merupakan letusan ringan atau mild eruption.
“Gunung Anak Krakatau masih tetap mengeluarkan emisi abu. Emisi abu itu adalah letusan yang sifatnya mild, letusan ringan. Jadi, dominan yang keluar adalah abu,” kata Nugraha di Pos Pemantauan Gunung Api Anak Krakatau, Selasa (8/9/2026).
Berdasarkan pemantauan pukul 00.00 hingga 12.00 WIB, PVMBG merekam empat kali erupsi Strombolian dengan amplitudo maksimum sekitar 44–50 milimeter dan durasi 10–15 detik.
Selain itu, tercatat sekitar 20 kali gempa fase banyak dan 20 kali gempa frekuensi rendah.
Menurut Nugraha, gempa frekuensi rendah merupakan aktivitas kegempaan dangkal yang sudah mendekati permukaan.
PVMBG juga masih merekam tremor yang berlangsung terus-menerus. Tremor dengan amplitudo dominan sekitar 5 milimeter tersebut termanifestasi dalam bentuk emisi abu yang keluar secara berkelanjutan.
Kondisi itu menunjukkan masih terdapat suplai magma di dalam tubuh Gunung Anak Krakatau.
“Walaupun secara visual itu cuma abu yang keluar dibandingkan dengan kemarin, kegempaan masih terjadi, suplai masih ada. Kita tidak tahu suplai yang tadi itu kapan mau dikeluarkan,” ujarnya.
PVMBG masih menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.
Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Larangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan abu vulkanik. Pada erupsi Strombolian, material yang terlontar dapat berupa batuan pijar dengan ukuran mulai dari lapili atau kerikil hingga bongkahan batu.
Nugraha menjelaskan, abu vulkanik berdiameter kurang dari 2 milimeter, lapili berukuran sekitar 2–64 milimeter, sedangkan bongkahan batu memiliki ukuran lebih dari 64 milimeter.
“Radius tiga kilometer itu masih rawan terhadap lontaran batu pijar, baik ukuran bongkah maupun lapili atau kerikil,” katanya.
PVMBG terus memantau perkembangan aktivitas Anak Krakatau karena erupsi yang secara visual tampak kecil tidak serta-merta menunjukkan tekanan di dalam gunung telah berakhir.
Jangkauan abu vulkanik juga bergantung pada tinggi kolom erupsi dan kondisi angin. Saat ini, kolom erupsi diperkirakan sekitar 100–200 meter dari puncak, meski pengamatan masih terbatas karena pandangan petugas terhalang kabut.
Menurut Nugraha, kondisi Anak Krakatau baru dapat mulai mengarah menuju keseimbangan baru apabila emisi abu berhenti dan tidak lagi ditemukan indikasi aktivitas serupa.
“Seharusnya sudah tidak ada abu lagi. Kalau tidak ada emisi abu, mungkin kita bisa dikatakan mulai balik ke keseimbangan baru atau menuju normal lagi,” ujarnya.
PVMBG masih mewaspadai perubahan karakter erupsi maupun kemungkinan keluarnya material vulkanik secara tiba-tiba.
Sumber: Beritasatu.com
