![]() |
| KERING: Penampakan Sungai Barito Mengering di bawah Jembatan Kalahien, Kalimantan Tengah - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA - Fenomena El Nino yang tengah berkembang pada 2026 diprediksi dapat menjadi salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah. Jika prediksi tersebut terealisasi, dampaknya terhadap suhu global berpotensi membuat 2027 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.
Sejumlah lembaga dan ilmuwan iklim kini meningkatkan perhatian terhadap perkembangan El Nino. NOAA dalam pembaruan 13 Agustus 2026 menyebut El Nino terus menguat dan peluang terjadinya episode yang sangat kuat pada musim gugur hingga musim dingin 2026–2027 telah mencapai lebih dari 90 persen.
Prediksi eksperimental GFDL, salah satu laboratorium NOAA, juga menunjukkan El Nino diperkirakan terus menguat hingga musim gugur dan kemungkinan mencapai puncak antara Oktober 2026 hingga Januari 2027. Seluruh anggota ensemble dalam prediksi tersebut menunjukkan potensi kekuatan yang dapat bersaing dengan peristiwa El Nino terkuat dalam catatan sejarah.
Laporan terbaru yang dikutip sejumlah media internasional bahkan menyebut fenomena El Nino kali ini berpeluang menjadi yang terkuat yang pernah tercatat. Reuters melaporkan Met Office Inggris memperkirakan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik ekuator dapat meningkat lebih dari 3 derajat Celsius dan membuka peluang 2027 menjadi tahun terpanas.
El Nino merupakan bagian dari siklus alami El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Pasifik tropis mengalami pemanasan signifikan.
Ketika fenomena tersebut menguat, pola atmosfer global ikut berubah. Dampaknya tidak sama di setiap wilayah. Sebagian kawasan dapat mengalami kekeringan dan suhu panas yang lebih ekstrem, sementara wilayah lain justru menghadapi peningkatan curah hujan dan risiko banjir.
NOAA saat ini memperkirakan El Nino akan terus berlangsung hingga awal 2027. Dalam pembaruan Agustus, peluang El Nino mencapai kategori sangat kuat selama musim gugur dan musim dingin belahan bumi utara mencapai lebih dari 90 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dampak El Nino terjadi di atas tren pemanasan global akibat perubahan iklim.
Bagi Indonesia, salah satu risiko yang perlu mendapat perhatian adalah meningkatnya kekeringan dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi tersebut menjadi semakin relevan karena sejumlah wilayah Indonesia saat ini telah menghadapi karhutla dan kabut asap. Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, Riau dan Sumatera Selatan bahkan masuk dalam wilayah prioritas penanganan karhutla pemerintah.
El Nino yang kuat tidak otomatis membuat seluruh wilayah Indonesia mengalami kondisi yang sama. Namun, perubahan pola hujan dan peningkatan risiko periode kering dapat memperbesar kerawanan kebakaran di wilayah tertentu.
Selain itu, pemanasan global membuat dampak fenomena iklim alami seperti El Nino dapat menjadi lebih berat.
Jika skenario El Nino ekstrem tersebut terjadi, dampaknya bukan hanya menyangkut suhu udara. Kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gangguan pertanian, ketersediaan air, hingga cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia berpotensi ikut terdampak.
Karena itu, perkembangan El Nino 2026 menjadi salah satu fenomena iklim yang perlu terus dipantau hingga memasuki puncaknya pada akhir 2026 dan awal 2027.
Sumber: Beritasatu.com
