![]() |
| PELAJAR: Disdik Banjarmasin melakukan penyesuaian jam belajar usai memburuknya kualitas udara akibat karhutla - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL - Memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin menginstruksikan satuan pendidikan melakukan penyesuaian kegiatan pembelajaran. Sejumlah aktivitas di luar ruang juga dibatasi untuk mengurangi paparan asap terhadap siswa dan tenaga pendidik.
Kebijakan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin Nomor 400.3.5/5964-Set/Dipendik/2026. Penyesuaian dilakukan setelah kualitas udara di Kota Banjarmasin tercatat pada angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 79 per 22 Agustus 2026.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin Ryan Utama menegaskan, kesehatan dan keselamatan warga sekolah menjadi pertimbangan utama selama kondisi kualitas udara belum kembali normal.
“Kualitas udara yang memburuk akibat asap karhutla memerlukan langkah preventif yang cepat. Kami meminta seluruh satuan pendidikan membatasi paparan udara luar bagi peserta didik dan menyesuaikan jam belajar hingga situasi kembali normal,” tegas Ryan dalam keterangan tertulisnya.
Salah satu sekolah yang telah menerapkan penyesuaian tersebut adalah SMPN 10 Banjarmasin. Jam masuk siswa kini digeser dari jadwal normal, dengan pembelajaran dimulai pukul 09.00 WITA.
Kepala SMPN 10 Banjarmasin, Suriasa, mengatakan siswa diarahkan datang sekitar pukul 08.30 WITA sebelum kegiatan belajar dimulai.
“Siswa datang sekitar jam 08.30 WITA dan pembelajaran dimulai jam 09.00 WITA. Pembelajaran tetap berlangsung normal di dalam kelas,” ujar Suriasa saat dikonfirmasi, Senin (24/8/2026).
Selain mengubah jam masuk, sekolah dengan jumlah sekitar 410 siswa tersebut juga menghentikan sementara kegiatan yang dilakukan di luar ruangan.
Agenda seperti upacara bendera dan praktik Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) tidak dilaksanakan di lapangan. Materi pembelajaran olahraga dialihkan ke dalam ruangan untuk mengurangi paparan asap.
Sekolah juga memperketat imbauan penggunaan masker. Para siswa diminta sudah mengenakan masker sejak berangkat dari rumah, terutama ketika harus berada di luar ruangan atau dalam perjalanan menuju sekolah.
“Kita pinta juga siswa sejak dari rumah sudah menggunakan masker, agar terlindungi,” kata Suriasa.
Hingga Senin (24/8/2026), pihak sekolah belum menerima laporan adanya siswa yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap.
Meski demikian, pemantauan terhadap kondisi udara dan kesehatan siswa terus dilakukan. Pihak sekolah juga menunggu perkembangan serta arahan lanjutan dari Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin apabila kualitas udara kembali mengalami perubahan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan siswa dan tenaga pendidik di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla.
Penulis: Rian
