Trending

Disdik Banjarbaru Sesuaikan Jam Belajar Sekolah Terdampak Kabut Asap

AKTIVITAS: Orang tua siswa mengantar anak ke sekolah di tengah tebalnya kabut asap karhutla - Foto Dok H. Faidur

RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL - Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru menyesuaikan proses pembelajaran di sekolah yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penyesuaian dilakukan secara situasional, termasuk terhadap jam mulai belajar dan kegiatan yang berlangsung di luar ruangan.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 400.3.5/1738/P.SMP/Disdik tentang Proses Pembelajaran pada Saat Terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan Lingkup Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Tahun 2026.

Dalam surat edaran itu, satuan pendidikan yang terdampak dapat memulai pembelajaran pada pukul 09.00 WITA secara situasional. Waktu berakhirnya aktivitas sekolah juga disesuaikan, yakni pukul 11.30 WITA untuk PAUD, pukul 14.00 WITA untuk SD, dan pukul 15.00 WITA untuk SMP.

Dinas Pendidikan juga meminta sekolah menyesuaikan kegiatan pembelajaran yang biasanya dilaksanakan di luar ruangan dengan tingkat kepekatan kabut asap. Langkah tersebut dilakukan agar kondisi asap tidak mengganggu kesehatan warga sekolah maupun proses pembelajaran.

Dampak kabut asap tersebut mulai dirasakan sejumlah sekolah di Banjarbaru pada Rabu (19/8/2026). Pihak sekolah bahkan menunda sejumlah perlombaan yang semestinya digelar di luar ruangan.

Kepala SDN 1 Syamsudin Noor, Hasni Rusita, mengatakan kondisi asap pada hari tersebut cukup tebal. Padahal, sekolah sedang melaksanakan berbagai perlombaan dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus kegiatan yang berkaitan dengan hasil pembelajaran siswa.

“Karena suasananya seperti ini, jadi kami putuskan tunda dulu, sampai asapnya benar-benar tidak ada lagi,” ujar Hasni.

Meski kegiatan luar ruangan ditunda, aktivitas yang dapat dilakukan di dalam kelas tetap berlangsung. Di antaranya storytelling dan mewarnai.

Menurut Hasni, sejauh ini belum ada laporan siswa mengalami gangguan kesehatan serius akibat kabut asap. Namun, terdapat seorang guru yang disebut mengalami sesak napas dan memiliki riwayat asma.

Pihak sekolah mengingatkan siswa agar menjaga kesehatan selama kondisi kabut asap berlangsung. Siswa diminta menggunakan masker ketika berada di luar kelas maupun keluar rumah, memperbanyak minum air putih dan mengonsumsi makanan sehat.

“Yang penting itu jaga kesehatannya, kalau keluar kelas gunakan maskernya, ataupun keluar rumah gunakan maskernya juga, banyak-banyak minum air putih dan makanan yang sehat juga,” katanya.

Orang Tua Soroti Jarak Pandang

Kabut asap juga menjadi perhatian orang tua siswa. Dadan, salah seorang orang tua siswa, mengatakan kondisi asap dalam beberapa hari terakhir mulai terasa mengganggu.

Ia menyebut dampaknya tidak hanya dirasakan anak-anak yang beraktivitas di sekolah, tetapi juga masyarakat yang menggunakan jalan.

“Memang ini sudah mulai ada rasa perih, terus ada rasa berbau dengan asap-asap bakaran, kebakaran,” ujarnya.

Menurut Pian, jarak pandang di jalan menjadi terbatas. Ia mengaku kendaraan yang berada sekitar 5 hingga 10 meter di depan terkadang sulit terlihat dengan jelas.

Karena itu, ia mengingatkan pengendara agar lebih berhati-hati dan menjaga jarak selama kabut asap masih terjadi.

Ia juga berharap penanganan karhutla dapat segera dilakukan instansi terkait agar kondisi asap tidak berlangsung berkepanjangan dan mengganggu aktivitas sekolah serta kesehatan anak-anak.

Sekolah Diminta Koordinasi dengan Instansi Terkait

Selain mengatur pembelajaran, Dinas Pendidikan meminta kepala sekolah melakukan koordinasi dengan pihak terkait sebagai langkah awal mengantisipasi dampak kabut asap.

Koordinasi dapat dilakukan dengan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas, BPBD, serta perangkat kewilayahan seperti camat dan lurah se-Kota Banjarbaru.

Pengawas pembina dan penilik masing-masing satuan pendidikan juga diminta membantu melakukan pemantauan dan pembinaan untuk mendukung penanggulangan kabut asap serta kelancaran proses pembelajaran.

Sementara itu, pendidik dan tenaga kependidikan tetap melaksanakan tugas sesuai jam kerja yang telah ditetapkan. Apabila terjadi keterlambatan akibat kondisi kabut asap, satuan pendidikan dapat melakukan pembelaan dengan melampirkan foto yang dilengkapi waktu dan GPS.

Penyesuaian tersebut menjadi langkah agar kegiatan pendidikan tetap berjalan dengan mempertimbangkan kondisi kabut asap dan kesehatan warga sekolah.

Penulis: H. Faidur

Lebih baru Lebih lama