Trending

Refleksi 10 Tahun Forum Sineas Banua: Jalur Distribusi Hingga Kesenjangan SDM Masih Jadi PR Perfilman Kalsel

 

RAMAI: Organisasi Forum Sineas Banua (FSB) saat memperingati perjalanan 10 tahun gerakannya di Kalsel - Foto Dok Istimewa 


RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL- Genap berusia satu dekade (2016–2026), Forum Sineas Banua (FSB) memperingati perjalanan 10 tahun gerakannya di Kalimantan Selatan (Kalsel). 

Meski produksi karya film lokal mengalami pertumbuhan pesat, perayaan ini menjadi ajang refleksi mendalam mengenai berbagai hambatan dan kekurangan yang masih mengganjal kemajuan industri film di daerah.

​Berdasarkan paparan pengurus FSB, terdapat tiga pekerjaan rumah (PR) besar yang masih harus dibenahi agar dunia sinema Kalsel dapat tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.

​​Pembina FSB Adi Hidayat, menegaskan bahwa rantai ekosistem yang paling kritikal dan belum terpenuhi di Kalsel adalah jaringan distribusi. 

Meskipun 64 komunitas film di Kalsel aktif memproduksi film pendek hingga film panjang, para filmmaker dan rumah produksi (production house) lokal masih kesulitan menjual karyanya.

​"Satu ekosistem lagi yang harus dipenuhi adalah distribusi. Kita belum punya bioskop mandiri yang sifatnya memberi stimulasi agar kawan-kamar filmmaker bisa menjual karyanya. Kalau menembus pasar nasional secara umum, jaraknya masih sangat jauh," papar Adi.


​Dari sisi kemampuan teknis, Ketua FSB Munir, mengakui bahwa kualifikasi sineas lokal untuk tingkat dasar hingga menengah rata-rata sudah dikuasai dengan baik. 

Namun, Kalsel masih mengalami kekurangan tenaga ahli di tingkat atas (top-level skills), sehingga untuk beberapa posisi produksi tertentu daerah masih perlu mendatangkan kualifikasi dari luar.

​Untuk menutupi kekurangan kompetensi tersebut, FSB melalui wadah barunya, Yayasan Ruang Sinema Banua, merancang program bimbingan belajar (bimbel) perfilman yang mencakup 6 bidang keahlian: penulisan naskah, penyutradaraan, sinematografi, sound, editing, hingga tata artistik.

​Tantangan lain terletak pada dinamika dukungan pemerintah. Munir menyoroti bahwa pergantian kepala daerah baik di tingkat kota maupun provinsi sering kali berdampak langsung pada naik-turunnya komitmen terhadap kegiatan perfilman.

​Selain itu, masih ada kecenderungan dari pihak klien atau penyelenggara kegiatan yang kerap mengesampingkan potensi senior/sineas lokal dan lebih memilih mendatangkan kualifikasi dari luar daerah.

​Menghadapi berbagai keterbatasan tersebut, para sineas Kalsel memilih untuk tidak lagi bergantung penuh pada pemerintah daerah. 

Pembentukan Yayasan Ruang Sinema Banua menjadi bentuk penguatan kelembagaan agar gerakan swadaya masyarakat ini tetap memiliki posisi tawar yang kuat dan transparan.

​"Saya berharap 10 tahun ini menjadi pembuktian bahwa ruang-ruang seperti ini masih ada dan menjaga api secara swadaya. Harapannya bukan cuma bertahan sampai 20 tahun, tapi bagaimana merancang langkah hingga 100 tahun ke depan," pungkas Munir.

Penulis: Rian

Lebih baru Lebih lama