![]() |
| DIALOG: Diskusi dan kegiatan berkemah Komite EKRAF Banjarbaru bersama Pokdarwis Sungai Tiung di kawasan pendulangan intan Pumpung Cempaka - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL – Komite Ekonomi Kreatif (EKRAF) Kota Banjarbaru bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Sungai Tiung menggelar pertemuan strategis untuk mendorong pengembangan kawasan Pumpung Cempaka sebagai destinasi wisata budaya berbasis Living Museum.
Kegiatan tersebut dikemas melalui agenda berkemah dan diskusi santai di kawasan pendulangan intan Pumpung Cempaka.
Pertemuan itu difokuskan pada pemetaan potensi wisata budaya sekaligus penyusunan strategi percepatan pengembangan kawasan berbasis komunitas.
Selain melestarikan sejarah pendulangan intan tradisional, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat kolaborasi antara masyarakat, komunitas, dan pemerintah daerah.
Konsep Living Museum dipilih karena kawasan Pumpung memiliki nilai sejarah kuat sebagai lokasi pendulangan intan legendaris, termasuk keterkaitannya dengan penemuan Intan Trisakti pada 1965.
Melalui konsep tersebut, masyarakat ingin menghadirkan pengalaman edukatif yang autentik bagi wisatawan mengenai proses pendulangan intan tradisional di masa lalu.
Wakil Ketua Pokdarwis Sungai Tiung, Arkani, mengatakan pihaknya siap bersinergi dengan Komite EKRAF Banjarbaru untuk mewujudkan kawasan wisata budaya tersebut.
“Kami ingin mengedukasi wisatawan yang datang ke Pumpung dengan menunjukkan bagaimana proses asli pendulangan intan tradisional yang sebenarnya di era tahun 1965-an, tepat pada momentum sejarah Intan Trisakti legendaris ditemukan,” ujarnya, dikutip Jumat (22/5/2026).
Meski memiliki potensi besar, pengembangan kawasan wisata tersebut masih menghadapi kendala utama berupa keterbatasan lahan untuk pembangunan infrastruktur pendukung.
Arkani menyebut sejumlah pihak sebenarnya telah menyatakan komitmen membantu pembangunan fasilitas fisik, namun belum tersedianya lahan menjadi hambatan utama.
“Banyak pihak telah kami temui agar kawasan ini menjadi kawasan wisata, namun kendala utama di lapangan adalah ketersediaan lahan untuk pembangunan infrastruktur,” katanya.
Menanggapi hal itu, Ketua Harian Komite EKRAF Banjarbaru, Narwanto, menegaskan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Banjarbaru dan sejumlah SKPD terkait guna mencari solusi.
“Komite EKRAF Banjarbaru akan segera berkoordinasi secara intensif dengan Pemerintah Kota Banjarbaru melalui SKPD terkait untuk mendiskusikan solusi atas permasalahan lahan dan dukungan fasilitas di awal,” tegasnya.
Narwanto menilai kawasan Pumpung juga memiliki potensi pengembangan aktivitas alternatif lain, seperti area perkemahan atau camping ground serta berbagai aktivitas ekonomi kreatif penunjang wisata.
Kegiatan diskusi dan kemah tersebut turut dihadiri Wakil Direktur III Talent, Education & Human Development ICCN, Sri Hidayah, perwakilan CAF Banjarbaru, masyarakat, dan pegiat wisata kawasan Pumpung Cempaka.
Ke depan, agenda serupa direncanakan terus berlanjut guna mendorong kawasan Pumpung berkembang menjadi destinasi wisata budaya unggulan di Banjarbaru sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif baru bagi masyarakat sekitar.
Penulis: H. Faidur

