![]() |
| Personil JEF Banjar: Erwansyah, Winda Alsina K, Jefry Albari Triwibowo, Shouma Hadzir dan Niluh Putu Ratna Wedhani. (Foto: dokumentasi) |
RILISKALIMANTAN.COM - Di tengah perkembangan musik Indonesia yang ramai dengan lagu-lagu pop hingga elektronik, sekelompok musisi muda dari Banjarmasin memilih jalur yang tidak banyak digeluti orang. Memilih menghidupkan kembali lagu daerah (Banjar) dengan kemasan baru. Grup ini bernama JEF Banjar.
Mereka kini sudah menciptakan puluhan lagu daerah bernuansa Banjar modern, menginspirasi generasi muda untuk melestarikan seni budaya lokal. Penulis (Nazarra Gadis Charissa) berkesempatan menemui grup musisi muda tersebut di studio rekaman mereka yang berlokasi di kawasan Citra Garden, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Dari luar, tempat itu terlihat seperti rumah kompleks biasa. Namun, ketika saya diajak naik ke lantai dua, suasananya berubah menjadi ruang produksi musik profesional. Peralatan rekaman memenuhi hampir seluruh ruangan berukuran sekitar 3 x 4 meter tersebut. Kabel-kabel menjuntai dari bawah meja menuju berbagai perangkat.
Sebuah mikrofon berdiri tegak di salah satu sudut. Di bagian sisi ruangan, dua speaker mengapit layar komputer yang menampilkan software audio, sementara mixer terletak disampingnyauntuk mengatur setiap detail suara. Di sisi lain, beberapa alat musik tersandar rapi. Keyboard, gitar akustik dan elektronik, hingga instrumen tradisional seperti panting tersimpan dalam satu ruang yang sama.
Dari tempat yang sempit namun punya fungsi padat inilah perjalanan JEF Banjar dimulai. Jefry Albari Tribowo, pencetus JEF Banjar, mengatakan grup musik dirintis sejak 2012 bersama rekannya Irwansyah Noor (Eben), gitaris JEF. Awalnya bukan sesuatu yang dirancang besar. Mereka hanya dua anak muda yang gemar membuat lagu sejak masa sekolah. Dari kebiasaan itu, muncul keinginan untuk melangkah lebih jauh.
“Awalnya cuma suka bikin lagu saja. Dari SMA sudah sering, sekitar 2012 mulai serius,” ujar Jefry ditemui di rumahnya.
Di masa-masa awal itu, mereka banyak mengerjakan proyek kecil, mulai dari jingle hingga mengikuti berbagai lomba. Di tengah proses tersebut, mereka kemudian memilih langkah lebih besar lagi yakni membuat lagu daerah. Jefry melihat bahwa lagu Banjar yang dulu begitu kuat, perlahan mulai jarang terdengar.
“Waktu itu kami lihat lagu Banjar kekinian masih sedikit. Dari situ kami kepikiran untuk fokus ke sana,” katanya. Langkah tersebut semakin terasa ketika beriringan dengan wafatnya beberapa tokoh penting dalam musik Banjar, sebagai contoh Anang Ardiansyah dan Syarifuddin M.S.
Bagi Jefry dan tim, itu seperti pengingat bahwa ada estafet yang harus diteruskan. “Kami merasa terpanggil untuk bisa membuat lagu banjar lagi, untuk melanjutkan semangat-semangat para senior yang memang berkecimpung di lagu banjar. Semangat-semangat para senior ini harus kita tiru dan kita lanjutkan juga,” katanya.
Melangkah lebih serius
JEF memulai perjalanannya dalam bermusik yang lebih serius dengan merilis album pertamanya yang berjudul “Waja Sampai Kaputing” yang merupakan semboyan Banjar berarti “pantang menyerah hingga penghabisan”. Dalam album tersebut berisi total 10 lagu, “Ayo ke Banjarmasin” adalah lagu yang viral pada saat itu dan membuat publik sadar terutama generasi muda bahwasanya lagu banjar dapat dikemas dengan modern dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Sekitar dua tahun setelahnya JEF Banjar merilis album kedua yang memiliki total 11 lagu, album tersebut berjudul “Gawi Manuntung” yang artinya “pekerjaan yang diselesaikan hingga tuntas”. Lagu-lagu pada album tersebut bertujuan untuk mengajak seluruh masyarakat untuk bergotong-royong dan kerja hingga tuntas memajukan budaya Kalimantan Selatan.
“Seni itu luas. Selama masih ada unsur Banjar di dalamnya, menurut kami itu tetap bagian dari lagu Banjar,” ujar Jefry. Baginya, yang terpenting bukan sekadar label, tetapi bagaimana karya itu bisa menyampaikan rasa dan identitas.
Seiring berjalannya waktu, usaha mereka mulai menunjukkan hasil. Lagu-lagu JEF Banjar perlahan dikenal lebih luas, tidak hanya di Kalimantan Selatan, tetapi juga di berbagai daerah lain. Beberapa karya mereka bahkan berhasil menarik perhatian nasional.
Bahkan agu-lagu JEF Banjar juga mendapat kepercayaan mengisi soundtrack film "Saranjana" dan "Kuyang". Lagu-lagu dalam film ini juga cukup booming dan di-cover oleh penyanyi-penyanyi lainnya.
Salah satu yang paling menonjol adalah lagu Saranjana, yang sempat viral dan membawa nama JEF Banjar ke panggung yang lebih besar. Lagu tersebut bahkan masuk nominasi AMI Awards 2024 untuk kategori lagu berbahasa daerah terbaik. Sebelumnya, pada tahun 2018, mereka juga meraih juara satu dalam lomba cipta lagu daerah tingkat nasional yang diselenggarakan di RRI Jakarta dan mengalahkan ratusan lagu daerah lainnya dari seluruh Indonesia.
Apa yang dilakukan JEF Banjar menunjukkan bahwa seni tidak hanya berbicara tentang estetika tetapi juga tentang identitas, nilai, dan arah. Dalam konteks ini, seni menjadi alat untuk memperkuat karakter baik secara individu maupun kolektif.
“Jangan takut mulai dari hal kecil. Kalau kita jujur sama karya sendiri dan terus jalan pasti ada jalannya. Apalagi kalau itu tentang budaya kita itu bukan cuma soal seni, tapi juga soal siapa kita," ujar Jefry.
Penulis: Nazarra Gadis Charissa (siswa SMAN 2 Banjarmasin, peserta FLS3N 2026 tingkat SMA se-Kota Banjarmasin, cabang jurnalistik).
Editor: Khairiadi Asa

