Trending

Pemerintah Masuk “Mode Bertahan”, Ekonom Ingatkan Risiko Persepsi Publik

SOSOK: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Pemerintah mengubah pendekatan dalam mengelola ekonomi di tengah tekanan global. Arah kebijakan kini disebut tidak lagi berjalan seperti biasa, melainkan masuk dalam “mode bertahan” (survival mode) untuk menjaga stabilitas.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa strategi tersebut mencerminkan cara pandang pemerintah dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini.

“Di kepala Presiden, kita sekarang berada dalam kondisi survival, bukan business as usual,” ujarnya dalam Simposium PT SMI 2026 di Jakarta.

Istilah survival mode pun memicu perhatian kalangan ekonom. Pengamat dari Universitas Andalas, Syarifudin Karimi, menilai istilah tersebut menggambarkan kondisi kewaspadaan tinggi dalam menjaga indikator ekonomi.

“Dalam perspektif ekonomi, ini berarti pemerintah berupaya menjaga pertumbuhan, daya beli, penerimaan negara, investasi, hingga lapangan kerja,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan penggunaan istilah tersebut berpotensi menimbulkan persepsi negatif, seolah ekonomi berada dalam fase krisis.

Menurutnya, stabilitas ekonomi tidak cukup dibangun melalui istilah atau jargon, melainkan harus disertai kebijakan yang jelas dan komunikasi publik yang terukur.

Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, M Rizal Taufikurahman, menilai survival mode mencerminkan pergeseran kebijakan pemerintah.

“Ini menunjukkan peralihan dari orientasi ekspansi ke stabilisasi,” ujarnya.

Menurut Rizal, pemerintah kini lebih fokus menjaga daya beli, stabilitas fiskal, dan meredam risiko, dibanding mendorong pertumbuhan agresif.

Ia menilai strategi tersebut diperlukan dalam kondisi global yang menekan, namun memiliki konsekuensi berupa pertumbuhan yang lebih moderat dan perlambatan perbaikan kesejahteraan.

Meski tidak mengarah pada krisis, dampaknya tetap terasa, terutama bagi kelas menengah. Tekanan biaya hidup, perlambatan sektor riil, hingga terbatasnya penciptaan lapangan kerja menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.

“Bukan kontraksi tajam, tetapi stagnasi yang membuat pemulihan berjalan lebih lambat,” kata Rizal.

Sumber: Kompas.com

Lebih baru Lebih lama