Trending

Bahlil Pastikan Stok BBM dan LPG Aman, Indonesia Lewati Masa Kritis Energi

BICARA: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat menyampaikan terkait kondisi pasokan BBM dan LPG - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) nasional dalam kondisi aman dan mencukupi, meski di tengah dinamika geopolitik global.

Menurutnya, Indonesia telah berhasil melewati masa kritis terkait ketersediaan energi yang sempat dipengaruhi ketegangan di Timur Tengah, termasuk potensi gangguan distribusi di Selat Hormuz.

"Jadi sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa masa kritis kita terhadap dinamika global untuk BBM, alhamdulillah kita sudah lewati," ungkap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/4/2026).

Ia menjelaskan, stok BBM nasional saat ini berada di atas batas minimal, yakni lebih dari 20 hari. Sementara itu, cadangan LPG juga terjaga di atas 10 hari.

"Stok nasional tetap berada pada batasan minimal di atas 20 hari semua. Termasuk LPG kita di atas 10 hari," ujarnya.

Meski kondisi pasokan dinilai aman, Bahlil tetap mengimbau masyarakat agar bijak dalam menggunakan energi, baik BBM maupun LPG.

"Tetapi sudah barang tentu, saya meminta kepada seluruh masyarakat, kita harus bijak, arif dalam memakai BBM, termasuk LPG," tuturnya.

Di sisi lain, pemerintah masih mengkaji kemungkinan penyesuaian harga BBM, khususnya untuk jenis RON 92, RON 95, RON 98, serta solar non-subsidi seperti Pertamina Dex. Kajian tersebut masih dalam tahap perhitungan bersama badan usaha energi.

"Mengenai dengan BBM yang RON 92, 95, 98, termasuk dengan solar yang Pertamina Dex, itu nanti kita akan melakukan penyesuaian setelah perhitungan selesai," jelasnya.

Bahlil juga menambahkan, pasokan LPG yang sebelumnya sempat mengalami tekanan kini telah kembali stabil sejak awal April 2026. Dalam waktu dekat, tambahan pasokan dari kapal pengangkut LPG juga akan tiba untuk memperkuat cadangan nasional.

Selain itu, pemerintah saat ini tidak lagi melakukan impor solar, dan hanya fokus pada impor bensin dengan kebutuhan sekitar 20 hingga 22 juta kiloliter guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Sumber: Liputan6.com

Lebih baru Lebih lama