Trending

BPN Aceh Targetkan Restorasi 165 Ribu Dokumen Pertanahan Rampung 2026

 

PEMULIHAN ARSIP: 95 ribu arsip pertanahan rusak akibat bencana di Aceh, restorasi dikebut -Foto dok Rilis ATR/BPN
 

RILISKALIMANTAN.COM, ACEH - Bencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Aceh pada 26 November 2025 meninggalkan dampak serius terhadap arsip pertanahan. Sebanyak 95.000 arsip berupa buku tanah dan surat ukur dilaporkan basah dan rusak, sementara sekitar 165.000 warkah yang menyimpan data penting mengenai hak dan riwayat kepemilikan tanah ikut terdampak. Bencana tersebut melumpuhkan sedikitnya delapan kabupaten/kota di wilayah itu.

Di setiap lembar arsip yang rusak tersimpan informasi penting yang menjadi penanda hak masyarakat atas sebidang tanah. Ketika arsip tersebut terendam air, yang terancam bukan sekadar dokumen fisik, tetapi juga kepastian dan rasa aman para pemilik tanah.

Menyadari besarnya risiko tersebut, upaya penyelamatan arsip segera dilakukan. Di ruang-ruang yang masih dipenuhi lumpur, petugas membersihkan, mengeringkan, dan memilah satu per satu dokumen yang terdampak.

Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Aceh, Arinaldi, mengatakan proses restorasi arsip memerlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

“Kalau kita hitung mungkin lima tahun ke depan baru selesai untuk 165.000 dokumen. Karena itu, proses restorasi ini kami lakukan bersama berbagai pihak. Harapannya adalah bagaimana kita mempercepat normalisasi pelayanan melalui restorasi, dan seluruh arsip yang terdampak dapat selesai pada akhir tahun 2026 ini,” jelas Arinaldi.


Upaya pemulihan tersebut melibatkan empat pihak utama yang saling bekerja sama, yakni Kantor Wilayah BPN Provinsi Aceh, Kantor Wilayah BPN Provinsi Sumatera Utara, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), serta Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN).

Kolaborasi lintas lembaga ini dinilai menjadi kunci percepatan pemulihan arsip sekaligus membuka ruang pembelajaran bagi para taruna STPN yang terlibat langsung dalam proses restorasi.

Arinaldi berharap kegiatan tersebut tidak hanya mempercepat pemulihan arsip, tetapi juga memberikan pengalaman praktis bagi para calon profesional di bidang pertanahan.

“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi institusi, masyarakat, serta membentuk karakter para Taruna/i STPN sebagai calon insan pertanahan yang profesional dan berintegritas,” tuturnya.

Di tengah upaya pemulihan yang masih berlangsung, proses restorasi juga dimaknai sebagai momentum untuk mendorong transformasi layanan pertanahan berbasis digital.

“Jadi kita tidak hanya berbicara terkait dengan pembersihan dan penjemuran, tetapi bagaimana data tersebut bisa segera menjadi data digital. Kita berharap Kantor Pertanahan yang saat ini sangat terdampak, akan lahir kembali menjadi Kantor Pertanahan yang modern dan mampu melayani seluruh layanan pertanahan secara digital,” ungkap Arinaldi.

Kepala ANRI, Mego Pinandito, menegaskan bahwa penyelamatan arsip bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan secara cepat. Menurutnya, setiap tahap dalam proses penanganan arsip membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta koordinasi lintas lembaga.

Dalam proses restorasi di Aceh, ANRI menurunkan tenaga profesional yang bekerja bersama jajaran BPN daerah untuk memulihkan arsip yang terdampak bencana.

“Penanganan arsip tidak bisa dilakukan sendirian, kita harus bersama-sama. Ada pilar-pilar utama dari kementerian, dalam hal ini Kementerian ATR/BPN sebagai pemilik arsip, kemudian pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, BNPB, serta ANRI, untuk membangun kolaborasi antar dan lintas kementerian, lintas pemerintahan, bahkan lintas kompetensi,” pungkasnya.

Sumber: Rilis ATR/BPN

Lebih baru Lebih lama