![]() |
| MATA UANG: Ilustrasi nilai rupiah di antar mata uang asing - Foto Dok Detik.com |
RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih melanjutkan tren pelemahan pada pembukaan perdagangan Rabu (18/2/2026). Sejak awal Februari, rupiah bergerak cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dari posisi Rp16.798 menjadi Rp16.837 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan pelemahan rupiah didorong minimnya likuiditas di tengah libur panjang. Kondisi tersebut membuat pergerakan nilai tukar relatif sulit diprediksi.
“Pergerakan mata uang maupun lainnya umumnya susah diprediksi di tengah liburan dan minimnya likuiditas. Bisa (melemah), secara dolar AS masih menguat walau tidak signifikan, rupiah masih terbebani sentimen domestik,” ungkap Lukman saat dihubungi detikcom, Selasa (17/2/2026).
Ia juga menyebut belum ada dampak signifikan menjelang negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa. Menurutnya, investor masih menunggu hasil pertemuan tersebut.
“Belum ada dampak, kecuali ada harapan pada hasil pertemuan itu, investor masih akan mencermati perkembangannya,” ujarnya.
Secara terpisah, Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah turut dipengaruhi sentimen global. Selain pertemuan AS–Iran, pasar juga mencermati pertemuan antara Prabowo Subianto dan Donald Trump terkait pembahasan tarif impor.
Menurut Ibrahim, pemerintah AS dan Indonesia disebut telah menyepakati tarif sebesar 19 persen. Namun, sentimen berikutnya yang membayangi rupiah adalah potensi pelebaran defisit anggaran setelah adanya kesepakatan impor minyak mentah dalam jumlah besar dari AS.
“Selama ini Indonesia tidak melakukan impor minyak mentah dari Amerika, tetapi dari negara-negara anggota OPEC dan Rusia. Bahkan sempat akan melakukan impor ke pasar gelap yang harganya relatif lebih murah 30 persen. Indonesia tidak berani melakukan pembelian terhadap minyak mentah tersebut di pasar gelap, nah ini yang sebenarnya membuat defisit akan kembali melebar,” ungkap Ibrahim.
Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah relatif akan terbatas. Pasalnya, Bank Indonesia (BI) telah melakukan sejumlah intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) guna menahan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan Rabu.
“Nah ini pun juga yang kemungkinan membuat rupiah dalam perdagangan besok, kalau menguat pada pembukaan, menguat terbatas. Tetapi ada kemungkinan ditutup melemah,” imbuhnya.
Sumber: Detik.com

