Trending

Menjadi Seniman

 


Oleh: Novyandi Saputra  


Saya tidak pernah benar-benar merencanakan menjadi seniman. Tidak ada momen resmi ketika saya berkata: “Mulai hari ini saya seorang seniman.” Tidak ada ijazah yang menegaskan itu. Tidak ada pelantikan. Tidak ada seragam.

Yang ada hanyalah pertemuan-pertemuan kecil: suara gamelan yang bergema di ruang latihan sederhana, panggung kayu yang berderit di desa, percakapan panjang di warung kopi, dan perasaan aneh di dada setiap kali musik, teater, atau bunyi alam bersatu dalam satu pengalaman.

Pelan-pelan saya menyadari: di kampung saya semua orang berkesenian, maka menjadi minoritas ketika saya tidak ikut-ikutan. Dan celakanya saya kemudian jatuh cinta dan mengamininya sebagai sebuah pekerjaan.

Mengapa ada pekerjaan bernama seniman?

Di tanah Banjar, orang tumbuh dengan kerja yang nyata dan terlihat: berdagang di pasar, melaut, berkebun, menambang, menjadi pegawai, atau merantau demi kehidupan yang lebih pasti.

Coba saja kamu atau siapapun cek KTP teman-temanmu dari 20 orang paling hanya 1 orang yang pada bagian pekerjaan di KTP-nya tertulis; SENIMAN. Pada kenyataan lainnya, di tengah kenyataan hidup yang keras ini pertanyaan tentang seni sering terdengar sederhana namun tajam: “Seniman itu kerjanya apa?”

Pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu. Ia mengandung kecemasan sosial: apakah pekerjaan ini bisa memberi makan? Apakah ia berguna? Apakah ia layak dijadikan jalan hidup? apakah ada calon mertua yang mau menerima anaknya dipersunting seniman? Hmmm...

Saya memahami pertanyaan itu. Sebab kita hidup di wilayah yang sejak lama dibentuk oleh logika bertahan hidup: sungai sebagai jalur ekonomi, hutan sebagai sumber penghidupan, dan kini tambang sebagai penopang ekonomi daerah.

Dalam lanskap seperti itu, seni sering dianggap sebagai sesuatu yang tambahan, bukan kebutuhan. Bahkan cenderung dianggap riasan saja.

Namun justru di tengah kehidupan yang keras, manusia membutuhkan ruang untuk merasakan hidup, bukan sekadar menjalaninya. Disitulah seni menemukan tempatnya.

Dicintai dan dicurigai

Menjadi seniman berarti hidup di antara dua keadaan: dicintai dan dicurigai. Karya-karya seni dapat menghibur masyarakat. Musik tradisi menghidupkan pesta rakyat. Tari menyambut tamu kehormatan. Pertunjukan menjadi bagian dari perayaan dan identitas budaya.

Pada saat itu, seniman dicintai. Namun ketika seni mulai bertanya, menggugat, atau menunjukkan sisi lain dari kenyataan sosial, suasana bisa berubah.

Seni yang mengangkat isu lingkungan dianggap terlalu kritis. Seni yang menyinggung kekuasaan dianggap berbahaya. Seni yang berbeda dari kebiasaan dianggap aneh. Seniman kemudian dicurigai.

Saya belajar bahwa masyarakat tidak selalu menolak seni. Yang sering ditolak adalah ketidaknyamanan yang dibawanya. Seni adalah cermin. Dan tidak semua orang siap melihat wajah mereka sendiri di dalamnya.

Status yang paling mudah didapatkan

Menjadi seniman adalah status yang paling mudah diambil, namun paling sulit dijalani. Saya pernah melihat seseorang mulai memainkan musik sederhana, bergabung dalam komunitas kecil, lalu perlahan menemukan identitasnya sebagai seniman. Tidak ada yang melantik. Tidak ada yang mengesahkan. Ia tumbuh dari proses. Di Banjarbaru, Banjarmasin, Kotabaru, hingga desa-desa di Kalimantan Selatan, saya menyaksikan hal yang sama: seni tumbuh dari kebersamaan.

Dari latihan di halaman rumah. Dari panggung kecil festival kampung. Dari ruang komunitas yang seadanya. Dari orang-orang yang mencipta tanpa tahu apakah ada yang akan menonton.

Seni tidak memiliki gerbang formal. Ia terbuka bagi siapa saja yang ingin masuk. Namun keterbukaan itu sering disalahpahami.

Karena siapa pun bisa menyebut dirinya seniman, masyarakat kadang menganggap profesi ini tidak memiliki standar. Padahal standar itu bukan terletak pada pengakuan formal, melainkan pada ketekunan, kedalaman proses, dan kesetiaan pada karya.

Menjadi seniman bukan soal pengakuan. Ia soal perjalanan. Mudah Disebut, Sulit Dipertahankan. Banyak orang bisa memulai jalan seni. Tidak banyak yang bertahan.

Saya menyaksikan teman-teman yang berhenti berkarya karena tuntutan hidup. Ada yang harus memilih pekerjaan tetap demi keluarga. Ada yang lelah berjuang di ruang yang minim dukungan. Ada yang kehilangan kepercayaan diri karena merasa karya mereka tidak dihargai. Ini bukan kegagalan pribadi. Ini adalah kenyataan struktural.

Di daerah, seni sering hidup dari semangat, bukan dari sistem pendukung. Infrastruktur terbatas. Ruang pertunjukan minim. Apresiasi publik belum merata. Kebijakan kebudayaan belum selalu berpihak pada keberlanjutan ekosistem seni.

Seniman diminta kreatif, tetapi jarang diberi ruang untuk tumbuh. 

Mereka diminta melestarikan budaya, tetapi sering dibiarkan berjuang sendiri. Di sinilah paradoks itu terasa: seni dipuji sebagai identitas daerah, tetapi senimannya tidak selalu mendapat dukungan yang layak.

Seniman dan tanah yang terluka

Hidup di Kalimantan berarti hidup berdampingan dengan alam yang kaya sekaligus rentan. Hutan yang dulu menjadi ruang spiritual dan sumber kehidupan kini menyusut. Sungai yang dahulu menjadi nadi peradaban menghadapi tekanan ekologis. Tambang membuka lapangan kerja sekaligus meninggalkan luka lanskap.

Sebagai seniman, saya tidak bisa menutup mata terhadap perubahan ini. Seni menjadi cara untuk merasakan kehilangan, mengingat kembali hubungan manusia dengan alam, dan menyuarakan kegelisahan yang tidak selalu memiliki ruang dalam percakapan formal.

Kadang seni tidak memberi solusi. Namun ia menjaga kesadaran tetap hidup. Dan kesadaran adalah awal dari perubahan.

Seniman sebagai penjaga ingatan

Di tengah perubahan cepat, seni menjadi penjaga ingatan kolektif. Ia menjaga bahasa lokal tetap hidup. Ia menjaga ritme tradisi tetap berdetak. Ia menjaga cerita leluhur tetap terdengar.

Bukan untuk mengurung masa lalu, tetapi untuk memastikan bahwa kita tidak kehilangan arah saat melangkah ke masa depan.

Bagi saya, menjadi seniman bukan tentang mempertahankan bentuk lama secara kaku. Ia tentang merawat ruh kebudayaan sambil membuka ruang dialog dengan zaman.

Mengapa saya tetap memilih jalan ini? Ada banyak alasan untuk berhenti menjadi seniman: Ketidakpastian ekonomi, kurangnya dukungan, minimnya penghargaan, tekanan sosial untuk memilih pekerjaan yang lebih stabil.

Namun setiap kali saya berada di ruang latihan sederhana, setiap kali bunyi tradisi bertemu dengan suara baru, setiap kali pertunjukan membuat orang terdiam lalu tersenyum, saya tahu mengapa jalan ini masih saya tempuh.

Seni memberi saya cara memahami dunia. Seni memberi saya cara mendengar orang lain. Seni memberi saya cara tetap menjadi manusia.

Seniman akan selalu lahir

Selama manusia masih memiliki perasaan, seni tidak akan pernah hilang. Ia akan lahir di panggung besar maupun di halaman rumah. Ia akan hidup di festival maupun di gang sempit kota. Ia akan tumbuh di desa, di sungai, di hutan, dan di ruang digital.

Seniman mungkin tidak selalu terlihat penting dalam struktur ekonomi. Namun mereka menjaga sesuatu yang tidak dapat diukur oleh angka: rasa, makna, dan ingatan.

Dan selama manusia masih membutuhkan makna, seniman akan selalu ada. Bukan karena profesi ini menjanjikan kemapanan. Tetapi karena tanpa seni, manusia hanya bertahan hidup untuk tidak benar-benar hidup.

Penulis: akademisi sekaligus seniman


Lebih baru Lebih lama