Trending

Relawan Karhutla Banjarbaru Dapat Insentif Rp100 Ribu per Hari

SOSOK: Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby bersama sejumlah relawan karhutla Kota Banjarbaru - Foto Dok HMR

RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL - Pemerintah Kota Banjarbaru menetapkan insentif sebesar Rp100 ribu per orang per hari bagi relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kebijakan tersebut disampaikan Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, saat bersilaturahmi dengan relawan karhutla di Lapangan Bola Dr. Murdjani, Jumat (6/11/2026).

Lisa mengatakan besaran insentif relawan di Banjarbaru disamakan dengan yang diberikan pemerintah provinsi. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para relawan yang telah terlibat dalam penanganan karhutla selama kurang lebih lima bulan terakhir.

Menurutnya, para relawan telah bekerja di lapangan untuk membantu penanganan kebakaran sekaligus mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan.

"Tetap jaga kesehatan, perkuat koordinasi, dan terus berikan manfaat bagi masyarakat," ucap Lisa.


Dalam kegiatan tersebut, Pemko Banjarbaru juga menyampaikan alokasi bantuan Presiden RI untuk penanganan karhutla dengan nilai sekitar Rp15 miliar.

Dana tersebut dialokasikan melalui sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), yakni BPBD sebesar Rp12 miliar, Dinas Kesehatan Rp1,27 miliar, Dinas Sosial Rp663 juta, Satpol PP Rp589 juta, serta Dinas PUPR Rp420 juta.

Bantuan itu diperuntukkan bagi pengadaan sarana operasional hingga rehabilitasi sumur bor. Lisa meminta seluruh peralatan yang diperoleh melalui bantuan tersebut dimanfaatkan secara berkelanjutan dan dirawat dengan baik.

“Bahwa bantuan-bantuan ini agar kiranya dimanfaatkan dan dipertanggungjawabkan sama-sama, dan saya berharap seluruh bantuan peralatan yang telah dipercayakan dapat dimanfaatkan serta dirawat sebaik-baiknya,” kata Lisa.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Banjarbaru, Zaini, menyebut luas lahan yang terbakar di wilayah Banjarbaru mencapai sekitar 2.067,2 hektare dari 367 kejadian hingga 5 November 2026.

Ia mengatakan berdasarkan pemantauan yang mengacu pada informasi BMKG, titik panas atau hotspot di Banjarbaru sudah tidak terdeteksi setelah hujan turun. Meski demikian, BPBD tetap menjalankan posko induk, pemantauan, dan patroli bersama relawan di wilayah yang sebelumnya terdampak kebakaran.

Zaini menyebut tantangan yang masih dihadapi setelah kebakaran mereda adalah kekeringan. Permintaan pasokan air bersih dari masyarakat masih berlangsung setiap hari.

BPBD juga berencana berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah terkait untuk menata kembali kawasan lahan yang terbakar, termasuk membahas kemungkinan penanganan drainase sebagai bagian dari antisipasi menghadapi musim hujan.

Menurut Zaini, status siaga karhutla di Banjarbaru masih berlaku. Upaya pemantauan dan pencegahan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kebakaran kembali terjadi, meskipun hotspot saat ini sudah tidak terdeteksi.(hmr)

Lebih baru Lebih lama