Trending

Pembangunan Kebudayaan, Termasuk Sastra, Tidak Bisa Dianggap Urusan Pinggiran

Ketua Dewan Kesenian Kalsel Taufik Arbain berbincang dengan Bupati HSU H Sahrujani, usai acara pembukaan ASKS XXIII 2026, di Amuntai, Jumat (30/10/2026). 
(Foto: Juni) 

RILISKALIMANTAN. COM - Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) XXXIII 2026 di Amuntai (HSU) tadi malam (Jumat, 30/10/2026) resmi dibuka oleh Gubernur Kalimantan Selatan yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Adi Santoso. Sebelumnya Bupati HSU H Sahrujani memberikan sambutan yang ditutup dengan pembacaan puisi berjudul "Jejak Rasa" karya beliau sendiri.

Even tahunan pertemuan sastrawan Kalsel yang digelar di Gedung H Abdul Wahid HK ini, juga mengundang wilayah tetangga yakni Kabupaten Barito Timur. Kabupaten tetangga ini dianggap oleh panitia memiliki kesamaan budaya masyarakatnya.

Ketua Dewan Kesenian Kalimantan Selatan, Datuk Dr H Taufik Arbain yang turut hadir dalam pembukaan ASKS XXXIII 2026, menyambut baik digelarnya acara yang rutin setiap tahun tersebut. 

"Sebagai Ketua Dewan Kesenian, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan Aruh Sastra di Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Terlebih, kegiatan ini mengangkat tema 'Membangkitkan Sastra Negara Dipa'. Sebuah tema yang tidak hanya memiliki makna kultural, tetapi juga mengandung pesan penting tentang bagaimana kita merawat ingatan sejarah, membangun kesadaran kebudayaan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat," ujar Taufik Arbain. 

Menurutnya, sastra tidak boleh dipandang hanya sebagai aktivitas seni, rangkaian kata, puisi, cerita, atau ekspresi imajinasi para sastrawan. Sastra memiliki ruang yang jauh lebih luas dalam kehidupan manusia. Sastra adalah jalan untuk merawat kepekaan, membangun empati, menyuarakan kegelisahan, dan mengingatkan manusia tentang nilai-nilai kemanusiaan.

Di tengah kehidupan yang semakin pragmatis, ketika manusia sering diukur dari jabatan, kekuasaan, materi, dan capaian-capaian lahiriah, sastra mengingatkan kita bahwa manusia juga memiliki hati, rasa, nurani, dan tanggung jawab moral. Sastra mengajarkan kita untuk tidak kehilangan kepekaan terhadap penderitaan orang lain, tidak abai terhadap ketidakadilan, serta tidak tercerabut dari akar budaya dan nilai-nilai kehidupan.

Karena itu, menurut Taufik, membangkitkan sastra sesungguhnya juga berarti membangkitkan adab. Sastra dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai adat, kesantunan, penghormatan kepada orangtua, solidaritas sosial, kebersamaan, dan kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur. Adat bukan sekadar seremoni atau simbol kebudayaan, tetapi nilai yang seharusnya hadir dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.

Ia berharap sastra tidak berhenti di panggung-panggung pembacaan puisi, forum diskusi, atau pertemuan para sastrawan. Lebih dari itu, sastra harus hadir di tengah masyarakat, menyentuh generasi muda, memasuki ruang pendidikan, menghidupkan tradisi tutur, serta menjadi bagian dari kesadaran kolektif untuk membangun masyarakat yang beradab dan berbudaya.

"Saya juga ingin memberikan apresiasi dan penghormatan kepada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara atas dukungan besar terhadap penyelenggaraan Aruh Sastra ini. Dukungan pemerintah daerah menunjukkan bahwa pembangunan kebudayaan tidak boleh ditempatkan sebagai urusan pinggiran. Kebudayaan, termasuk sastra, merupakan bagian penting dari pembangunan manusia dan peradaban daerah, " kata Dosen FISIP ULM ini. 

Pihaknya  mengapresiasi Kabupaten Hulu Sungai Utara yang telah membuka ruang, menjadi tuan rumah, sekaligus menyambut para sastrawan, seniman, dan pegiat kebudayaan dari berbagai daerah. Amuntai bukan sekadar tempat berlangsungnya kegiatan, tetapi juga ruang perjumpaan gagasan, persaudaraan, dan pertukaran pengalaman kebudayaan.


Sebagai Kota Bertuah dan bagian dari kawasan yang memiliki jejak historis Negara Dipa, Amuntai mempunyai kekayaan sejarah dan identitas budaya yang patut terus dirawat. Momentum Aruh Sastra ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali kekayaan tersebut, bukan hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai sumber inspirasi bagi masa depan.

"Pada akhirnya, saya berharap Aruh Sastra tidak hanya melahirkan karya-karya sastra, tetapi juga melahirkan kesadaran baru. Kesadaran bahwa sastra harus terus hidup, seniman harus terus diberi ruang, sastrawan harus terus diapresiasi, dan pemerintah bersama masyarakat harus menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan yang saling menguatkan. Sebab, daerah yang besar bukan hanya daerah yang maju pembangunan fisiknya, tetapi juga daerah yang mampu menjaga ingatan sejarah, merawat kebudayaan, dan membangun kehalusan budi masyarakatnya," tambah Taufik.

Pada kesempatan pembukaan ASKS XXXIII tersebut beberapa pengurus Dewan Kesenian Kalsel turut hadir, Yadi Muryadi, Abdurrahman El-Husaini, HE Benyamin dan Khairiadi Asa.

Editor: yadie asa

Lebih baru Lebih lama