Oleh: drh. Silvia Andryani
Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman
Bayangkan Anda sedang menunggu giliran di sebuah klinik hewan. Dari ruang periksa terdengar suara kucing yang meronta.
Seorang petugas berusaha menenangkannya, sementara dokter hewan menyiapkan tindakan. Beberapa saat kemudian, pemeriksaan selesai. Pemilik hewan merasa lega. Namun, ada bekas cakaran di tangan petugas yang membantu tadi.
Kita mudah membayangkan adegan itu. Yang mungkin jarang kita tanyakan adalah apa yang terjadi sesudahnya. Apakah lukanya ditangani? Apakah kejadian itu dicatat? Atau pelayanan langsung berlanjut karena pasien berikutnya sudah menunggu?
Bagi saya, pertanyaan tersebut perlu mendapat tempat dalam pembicaraan tentang mutu klinik hewan. Kita tentu menginginkan ruangan yang bersih, alat yang lengkap, dan pelayanan yang ramah. Pada saat yang sama, orang-orang yang bekerja di dalamnya juga perlu terlindungi. Kesembuhan hewan seharusnya berjalan bersama keselamatan mereka yang merawatnya.
Pekerjaan ini memang menuntut kedekatan dengan hewan, termasuk ketika hewan sedang kesakitan, ketakutan, atau sulit ditangani. Dalam keadaan seperti itu, keterampilan petugas sangat diperlukan. Meski demikian, pengalaman bertahun-tahun tidak membuat seseorang kebal terhadap gigitan, cakaran, atau cedera akibat jarum.
Ada pula bahaya yang tidak segera terlihat. NIOSH, lembaga penelitian keselamatan kerja Amerika Serikat, menjelaskan bahwa pekerjaan veteriner dapat melibatkan paparan bahan infeksius dan bahan kimia, serta risiko lain sesuai kegiatan pelayanan. Pada fasilitas yang menyediakan operasi atau pemeriksaan radiologi, perhatian juga perlu diberikan pada gas anestesi dan radiasi. Artinya, kebutuhan perlindungan harus mengikuti pekerjaan yang dilakukan di masing-masing tempat.
Salah satu kejadian yang patut menjadi pelajaran berlangsung di New York pada 2016. Seorang dokter hewan yang merawat kucing sakit di penampungan hewan terinfeksi influenza A(H7N2). Kasusnya kemudian dilaporkan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases. Menurut CDC, dokter hewan tersebut mengalami penyakit ringan dan pulih.
Kasus ini memiliki konteks yang khusus. Kita tidak dapat menggunakannya untuk menggambarkan keadaan seluruh klinik di Indonesia. Namun, ada alasan untuk memperhatikannya: orang yang memberikan pertolongan kepada hewan juga dapat membutuhkan perlindungan dari infeksi selama bekerja.
Persoalan berbeda muncul dalam laporan NIOSH yang diterbitkan pada Mei 2024. Pekerja sebuah rumah sakit hewan meminta pemeriksaan karena khawatir terhadap paparan gas anestesi. Hasil pengukuran personal selama periode pengambilan sampel berada di bawah batas pembanding yang digunakan dalam laporan. Meski begitu, pemantauan langsung menemukan lonjakan konsentrasi gas saat teknik pembiusan tertentu dilakukan.
Laporan itu merekomendasikan pemeriksaan dan pemeliharaan sistem penangkap gas sisa anestesi. Bagi pengelola layanan, pesannya cukup jelas. Peralatan yang tersedia perlu dipastikan berfungsi, dan cara penggunaannya harus ikut diperiksa. Kebersihan ruangan saja belum dapat menjawab persoalan tersebut.
Karena itu, saya merasa nasihat “hati-hati saat bekerja” perlu diikuti dukungan yang nyata. Seorang petugas akan kesulitan bekerja aman apabila harus menangani hewan yang meronta tanpa bantuan memadai. Begitu pula ketika tempat pembuangan jarum terlalu jauh dari lokasi tindakan atau alat yang diperlukan belum tersedia. Dalam keadaan seperti ini, pengaturan kerja perlu diperbaiki.
Pada 2022, ILO mengakui lingkungan kerja yang aman dan sehat sebagai prinsip dan hak fundamental di tempat kerja. Prinsip tersebut terasa dekat ketika diterjemahkan menjadi hal sederhana: petugas mengetahui cara meminta bantuan, mendapat pelatihan yang sesuai, dan memperoleh pertolongan ketika mengalami insiden.
Pengelola bisa memulainya dengan mendengarkan orang-orang yang menjalankan pekerjaan sehari-hari. Bagian mana yang membuat mereka kesulitan? Alat apa yang perlu diperbaiki? Dalam tindakan apa mereka membutuhkan tambahan petugas? Jawaban dari dokter hewan, paramedik veteriner, asisten, dan petugas kebersihan dapat memperlihatkan persoalan yang berbeda.
Hasil pembicaraan itu perlu ditindaklanjuti. Misalnya, pengelola mencatat temuan bahaya, menentukan siapa yang bertanggung jawab memperbaikinya, lalu memeriksa kembali penyelesaiannya setiap bulan. Bahaya yang mendesak tentu harus ditangani segera. Dengan cara ini, pekerja dapat melihat bahwa laporan mereka membawa perubahan.
Keberanian melapor juga perlu dijaga. Ketika sebuah laporan langsung dibalas dengan tuduhan ceroboh, orang dapat memilih diam pada kejadian berikutnya. Sebaliknya, pertanyaan tentang penyebab dan bantuan yang dibutuhkan membuka kesempatan untuk memperbaiki pekerjaan. Klinik yang sedikit menerima laporan belum tentu lebih aman; boleh jadi petugasnya belum merasa leluasa untuk berbicara.
Kesiapan menghadapi paparan penyakit pun perlu jelas. Untuk pekerja berisiko rabies, kebutuhan vaksinasi prapajanan perlu dinilai bersama tenaga kesehatan. WHO menegaskan bahwa vaksinasi sebelum paparan tidak menggantikan penanganan setelah paparan. Petugas perlu mengetahui ke mana harus mencari pertolongan ketika mengalaminya.
Pemilik hewan dapat ikut membantu dengan menyampaikan riwayat gigitan, perubahan perilaku, dan keluhan hewan secara jujur. Mengikuti arahan petugas saat pemeriksaan juga memberi ruang bagi tim untuk bekerja dengan lebih aman.
Pada akhirnya, perhatian kepada keselamatan pekerja merupakan bagian dari kepedulian terhadap pelayanan itu sendiri. Dalam pendekatan One Health, kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berkaitan. Hubungan itu hadir dalam pekerjaan sehari-hari, termasuk saat petugas membersihkan kandang, menangani pasien, atau mengelola limbah klinik.
Mari kembali ke ruang periksa tadi. Hewannya sudah tenang, pemiliknya sudah lega, dan pasien berikutnya bersiap masuk. Sebelum pelayanan berlanjut, masih ada satu orang yang perlu diperhatikan: petugas dengan luka cakaran di tangannya. Ia juga berhak mendapat pertolongan dan pulang dalam keadaan selamat. (***)
