Trending

Lautan Asap Kepung Batola Residence: Helikopter Water Bombing dan Mobil Water Cannon Polisi Dikerahkan Gempur Karhutla Gambut

KEPUNG PEMUKIMAN: Kepulan asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membubung tinggi di belakang Komplek Batola Residence, RT 33, Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Jumat (23/10/2026). Foto Dok. Rian


​

RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL — Gemuruh suara helikopter water bombing yang lalu-lalang di udara memecah ketegangan warga Komplek Batola Residence, RT 33, Kelurahan Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Batola), pada Jumat (23/10/2026).

Kepulan asap pekat membubung tinggi membendung langit, membawa ancaman nyata bagi rumah-rumah warga yang kini hanya berjarak beberapa puluh meter dari titik api.

​Amukan si jago merah yang sempat dipadamkan sebelumnya kembali menyala hebat akibat tiupan angin kencang dan kondisi tanah gambut yang mengering.

Suasana kian mencekam ketika armada pemadam kebakaran darat dan kepolisian terus berdatangan menembus kepulan asap tipis di akses jalan komplek.

​Abdurrahim, salah seorang warga Batola Residence, menuturkan bahwa amukan api sebenarnya sudah terdeteksi sejak kemarin di area Blok L. Namun, embusan angin kencang membuat kobaran api merembet cepat hingga menembus pemukiman.

​"Api ini sebenarnya terjadi sejak kemarin di Blok L. Karena angin mengarah ke sini, api akhirnya tembus sampai ke blok pemukiman warga," ujar Abdurrahim saat memberikan keterangan di lokasi.


Ia membeberkan bahwa para relawan di lapangan harus berjuang ekstra keras menembus semak belukar yang mongering. Selain beberapa titik air yang mulai mengering di bagian belakang komplek, keterbatasan selang pemadam menyulitkan upaya penjangkauan titik api di tengah lahan.

​"Semalam relawan memadamkan sampai jam 12 malam. Api di permukaan memang sudah padam, tetapi kemungkinan bagian bawah tanahnya masih kering dan menyimpan bara. Begitu terkena angin, api langsung hidup kembali," katanya.

​Abdurrahim juga menyoroti pentingnya keselamatan (safety) para relawan di lapangan, terlebih mengingat belum lama ini seorang relawan gugur saat berjuang memadamkan karhutla di wilayah Alalak.

Ia berharap pemerintah dan pihak terkait memberikan perhatian lebih, baik dari segi perlengkapan APD maupun keselamatan bagi para pejuang garis depan tersebut.

​Di tengah pertempuran sengit para relawan darat dari Batola hingga bantuan BPK dari Banjarmasin, keberadaan helikopter water bombing milik BPBD Kalsel di udara menjadi penolong krusial.

Deru baling-baling helikopter yang berulang kali tumpah-muntah menyiramkan ribuan liter air dari langit memberikan celah bagi petugas darat untuk merangsek masuk.

​Suriansyah, seorang relawan pemadam kebakaran yang bertugas di lokasi, mengakui betapa beratnya medan darat yang harus mereka tempuh.

​"Kondisi di lapangan memang sangat terbatas, terutama air.

Lahan yang terbakar ini sudah kami upayakan padamkan sejak kemarin bersama tim relawan Batola dan Banjarmasin. Tapi karena jaraknya jauh di dalam hutan, kami butuh sampai 10 hingga 15 roll selang untuk mencapainya," jelas Suriansyah.

​Ia mengungkapkan, kehadiran helikopter water bombing sangat membantu menembus titik-titik kritis yang mustahil dijangkau oleh personil darat dengan beban peralatan berat.

​"Alhamdulillah, adanya helikopter sangat terasa membantu. Untuk jarak yang jauh di dalam, kawan-kawan relawan punya keterbatasan membawa peralatan. Paling banyak kami cuma sanggup membawa 6 sampai 10 roll selang," paparnya.

Selain kendala geografis dan pasokan air, Suriansyah menyuarakan nasib para relawan swasta atau mandiri yang sering kali turun ke medan bahaya dengan modal seadanya.

​"Untuk pos lapangan (poslap) resmi seperti Poslap 1 Mandastana dan Poslap 2 Alalak memang ada pengajuan BBM. Tapi untuk relawan swasta lainnya, kadang-kadang pakai biaya sendiri. Kendala kami banyak karena harus menembus hutan, dan jujur perlengkapan safety kawan-kawan swasta masih kurang, seperti sepatu dan APD. Kami sangat berharap ada bantuan dan perhatian dari pemerintah," pungkasnya.

​Tak hanya relawan, jajaran kepolisian dari berbagai satuan turut berjibaku di titik lokasi. Kasat Samapta Polres Barito Kuala, AKP Maryono, mengungkapkan bahwa pihaknya bersama tim gabungan menerjunkan personil gabungan untuk membendung laju api.

​"Kita sedang melaksanakan kegiatan pemadaman karhutla di daerah atau di sekitaran Komplek Batola Residence, Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan," ujar AKP Maryono di lokasi.

​Ia menjelaskan bahwa kebakaran yang terjadi merupakan dampak lanjutan dari sisa-sisa bara gambut dua hari lalu.

"Jadi saat ini kami bersama-sama, baik dari seluruh personel Polres Barito Kuala, dari Direktorat Samapta, kemudian dari Brimob Polda Kalimantan Selatan, beserta seluruh rekan-rekan relawan BPK sedang melaksanakan kegiatan pemadaman. Ada juga dibantu water bombing dari BPBD Kalimantan Selatan," tuturnya.

Menyinggung tantangan krisis air, tim kepolisian mengerahkan kendaraan taktis penembak air (Armored Water Cannon / AWC) dan mobil tangki guna memastikan pasokan air pemadaman tetap terjaga.

"Kendalanya memang saat ini di belakang komplek ini merupakan kawasan atau lahan yang masih banyak pohonnya, kemudian yang semuanya kering, atau lahan gambut di bawahnya. Kemudian terkendala sebagian sumber air di titik-titik tertentu memang tidak ada. Jadi kita menggunakan armada Armored Water Cannon (AWC) termasuk mobil tangki untuk menyuplai air sebagai sumber pemadaman pada hari ini," jelas AKP Maryono.

​Mengingat kondisi cuaca yang sangat kering dan potensi api susulan, kepolisian memastikan pengamanan dan pengawasan disiagakan penuh 24 jam di Poslap 2 Polsek Alalak.

​"Yang jelas untuk warga di sekitar ini tetap selalu berjaga-jaga atau waspada. Barangkali ada terpantau api kembali, segera menyampaikan ke posko untuk kami tindak lanjuti agar segera dilakukan pemadaman sehingga tidak merembet ke perumahan," tegasnya mengimbau warga. (ryn) 

Lebih baru Lebih lama