![]() |
| PEMERIKSAAN: Pelaksanaan percepatan penemuan kasus tuberkulosis (TBC) di Kecamatan Cempaka - Foto Dok Diskominfo Banjarbaru |
RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL - Pemerintah Kota Banjarbaru meminta upaya deteksi dini penyakit diperkuat di tengah meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare akut. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan percepatan penemuan kasus tuberkulosis (TBC) dan penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pesan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby itu disampaikan Plt. Asisten I Bidang Pemerintahan Kota Banjarbaru Raden Indra saat mewakili wali kota dalam kegiatan supervisi dan pemantauan tracing TBC terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) di RT 19, Kecamatan Cempaka, Sabtu (24/10/2026).
Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru mencatat 1.184 kasus ISPA dan 307 kasus diare akut selama periode 11–17 Oktober 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama karena paparan asap karhutla berisiko memperburuk gangguan pernapasan.
Dalam pesan yang disampaikan Raden, Lisa menekankan pentingnya mempercepat penemuan kasus TBC melalui deteksi dini sekaligus meningkatkan perhatian terhadap warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat dampak karhutla.
“Percepatan penemuan kasus TBC melalui deteksi dini harus terus diperkuat agar masyarakat yang terindikasi dapat segera memperoleh pemeriksaan dan penanganan. Di sisi lain, dampak asap karhutla juga perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan,” kata Raden menyampaikan pesan Wali Kota Lisa.
Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penyerahan simbolis bantuan sembako kepada para kepala puskesmas. Bantuan itu selanjutnya disalurkan kepada masyarakat terdampak karhutla yang mengalami atau terindikasi mengalami gangguan pernapasan.
Raden menyampaikan, wali kota juga meminta koordinasi antara perangkat daerah, puskesmas, dan unsur terkait diperkuat agar pelayanan kesehatan serta penyaluran bantuan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
“Saya berharap koordinasi antara perangkat daerah, puskesmas, dan seluruh unsur terkait terus ditingkatkan, sehingga pelayanan kesehatan dan penyaluran bantuan dapat berjalan tepat sasaran. Pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan perhatian dan pelayanan yang dibutuhkan, terutama di tengah kondisi lingkungan yang berisiko bagi kesehatan,” kata Raden menyampaikan pesan Lisa.
4.100 Sasaran Telah Dijangkau Tracing TBC
Program tracing TBC terintegrasi CKG menyasar kontak serumah, kontak erat, serta kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi. Melalui penemuan kasus secara aktif, warga yang terindikasi TBC diharapkan dapat segera menjalani pemeriksaan dan memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, program tersebut berlangsung sejak 8 Agustus hingga November 2026. Pelaksanaannya menargetkan 50 lokus dengan 100 sasaran pada setiap lokus.
Hingga 24 Oktober 2026, tracing telah dilaksanakan di 41 lokus dengan total 4.100 sasaran. Capaian tersebut merupakan bagian dari upaya menjangkau kelompok berisiko dan menekan potensi penularan TBC di masyarakat.
Kasus Diare Akut Naik 17,2 Persen
Laporan surveilans kesehatan menunjukkan kasus diare akut di Banjarbaru meningkat selama empat minggu berturut-turut. Pada minggu ke-38, jumlahnya tercatat 183 kasus, kemudian naik menjadi 242 kasus pada minggu ke-39, 262 kasus pada minggu ke-40, dan 307 kasus pada minggu ke-41.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru dr. Ani Rusmila mengatakan, jumlah kasus diare akut pada minggu ke-41 meningkat 17,2 persen dibandingkan minggu sebelumnya.
“Berdasarkan Buletin Mingguan SKDR kami, tercatat sebanyak 307 kasus diare akut pada minggu ke-41,” kata Ani, Jumat (23/10/2026).
Sementara itu, kasus ISPA mencapai 1.184 kasus, naik 7,9 persen dibandingkan minggu sebelumnya yang mencatat 1.097 kasus.
Berdasarkan laporan fasilitas pelayanan kesehatan, kasus ISPA terbanyak tercatat di Puskesmas Landasan Ulin sebanyak 152 kasus, Puskesmas Banjarbaru Selatan 130 kasus, dan Puskesmas Guntung Payung 129 kasus.
Adapun laporan diare akut terbanyak berasal dari RS Idaman sebanyak 64 kasus, Puskesmas Cempaka 35 kasus, Puskesmas Banjarbaru Utara 24 kasus, serta Puskesmas Guntung Payung dan RSU Nirwana masing-masing 23 kasus. (hmr)
