![]() |
| ILUSTRASI: Dinkes Banjarbaru mencatat terdapat tren kenaikan kasus diare akut dan ISPA pada minggu ke-41 - Foto Dok AI |
RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL - Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru menyiapkan langkah pencegahan menyusul meningkatnya kasus diare akut dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada minggu ke-41 tahun 2026. Dalam periode 11–17 Oktober, tercatat 307 kasus diare akut dan 1.184 kasus ISPA, yang masing-masing menjadi angka tertinggi sepanjang tahun hingga periode pelaporan tersebut.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru, dr. Ani Rusmila, mengatakan jumlah kasus diare akut meningkat 17,2 persen dibandingkan minggu ke-40 yang mencatat 262 kasus.
Berdasarkan Buletin Mingguan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), kenaikan kasus diare akut berlangsung selama empat minggu berturut-turut. Pada minggu ke-38 tercatat 183 kasus, kemudian bertambah menjadi 242 kasus pada minggu ke-39 dan 262 kasus pada minggu ke-40, hingga mencapai 307 kasus pada minggu ke-41.
“Dari data yang tercatat, terdapat 307 kasus diare akut pada minggu ke-41,” kata dr. Ani, Jumat (23/10/2026).
Kenaikan juga terjadi pada kasus ISPA. Pada periode yang sama, jumlahnya mencapai 1.184 kasus, bertambah 7,9 persen dibandingkan minggu sebelumnya yang mencatat 1.097 kasus.
Dari laporan fasilitas pelayanan kesehatan, kasus ISPA terbanyak tercatat di Puskesmas Landasan Ulin sebanyak 152 kasus, Puskesmas Banjarbaru Selatan 130 kasus, dan Puskesmas Guntung Payung 129 kasus.
Sementara itu, laporan diare akut terbanyak berasal dari RS Idaman dengan 64 kasus, disusul Puskesmas Cempaka 35 kasus, Puskesmas Banjarbaru Utara 24 kasus, serta Puskesmas Guntung Payung dan RSU Nirwana masing-masing 23 kasus.
Menanggapi perkembangan tersebut, dr. Ani menyampaikan arahan Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, untuk memperkuat langkah preventif melalui gerakan pencegahan diare dan ISPA.
Rencana tersebut mencakup pelibatan camat, lurah, dan sekolah dalam gerakan pencegahan, peningkatan pelayanan serta skrining di seluruh puskesmas, dan pembagian masker di pasar, sekolah dasar, serta pos pelayanan terpadu (posyandu).
Selain langkah tersebut, Dinas Kesehatan melakukan pemetaan distribusi kasus berdasarkan orang, tempat, dan waktu untuk memantau perkembangan penyakit sekaligus mendukung penentuan tindak lanjut.
Upaya pencegahan dan deteksi dini itu disiapkan di tengah meningkatnya laporan kedua penyakit pada minggu ke-41. Meski demikian, data tersebut belum menjelaskan faktor penyebab kenaikan kasus diare akut dan ISPA di Banjarbaru. (hmr)
