![]() |
| Palui Banaran dan Ririt Campala Bawa Karya Musik Tradisi Banua ke Nominasi Karya Produksi Musik Etno Terbaik (Foto: ist) |
RILISKALIMANTAN.COM - Beranda IG Anugerah Musik Indonesia hari ini, Selasa (22/9/2026) dipenuhi nama-nama nominasi Anugerah Musik Indonesia. Ada sebanyak 67 kategori dan ratusan nama masuk nominasi. Dua nama berasal dari Banua yakni di kategori Karya Produksi Musik Etno. Mereka adalah Palui Banaran dan Ririt Campala, bersaing dengan tiga nama lainnya di kategori yang sama.
Yayasan Anugerah Musik Indonesia (YAMI) resmi mengumumkan daftar nominasi Anugerah Musik Indonesia atau AMI Awards ke-29. Mengusung tema "Ruang Nada Nusantara", ajang penghargaan tertinggi bagi insan musik kreatif Indonesia ini menghadirkan total 67 kategori, yang di dalamnya termasuk empat kategori baru.
Empat kategori baru yaitu Karya Produksi Musik Etno, Karya Produksi Hip-hop, Karya Produksi Hipdut (hip-hop dangdut), dan Karya Produksi Pesta Musik Timur. Penyelenggaraan tahun ini mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Antusiasme industri musik nasional terbukti tinggi melalui pendaftaran 5.360 lagu dalam bentuk single maupun album yang dirilis komersial pada periode 1 Juli 2025 hingga 30 Juni 2026.
Adapun musisi Banua Palui Banaran dinominasikan melalui karya “Wadian Dadas”, yang berangkat dari tradisi Belian Dadas masyarakat Dayak Maanyan. Sementara Ririt Campala masuk nominasi melalui karya “Babun”, sebuah karya yang berangkat dari pengetahuan musikal tradisi Kalimantan Selatan.
Capaian tersebut menjadi kabar penting bagi perkembangan musik tradisi di Kalimantan Selatan. Keduanya bukan nama yang asing bagi ekosistem Antasan Banjar, karena Palui Banaran dan Ririt Campala merupakan bagian dari perjalanan dua kali penyelenggaraan Antasan Banjar di Banjarmasin.
Sekitar dua bulan lalu, tim Antasan Banjar dihubungi oleh LMK Musik Tradisi Langgam Kreasi Budaya untuk menanyakan ketersediaan produk musik tradisi yang telah diproduksi dan dipublikasikan melalui YouTube maupun platform digital lainnya. Komunikasi tersebut kemudian menjadi momentum bagi Antasan Banjar untuk ikut merekomendasikan karya dan musisi dari Kalimantan Selatan yang memiliki rekam jejak produksi musik tradisi.
Dari proses tersebut, Antasan Banjar mengusulkan tiga nama. Dua di antaranya kemudian berhasil masuk dalam nominasi AMI Awards, yakni Palui Banaran dengan “Wadian Dadas” dan Ririt Campala dengan “Babun”.
Bagi Antasan Banjar, capaian ini tidak semata-mata tentang dua nama yang masuk nominasi. Lebih jauh, nominasi tersebut memperlihatkan bahwa karya yang tumbuh dari pengetahuan dan praktik musik tradisi Kalimantan Selatan memiliki peluang untuk hadir dalam ekosistem musik nasional ketika mendapatkan ruang produksi, dokumentasi, distribusi, dan apresiasi yang memadai.
“Kami dari Antasan Banjar tentu sangat bangga. Bagi kami, nominasi ini adalah kabar baik bukan hanya untuk Palui dan Ririt, tetapi untuk seluruh ekosistem musik tradisi Kalimantan Selatan. Apa yang selama ini tumbuh di komunitas dan ruang-ruang kebudayaan ternyata bisa bergerak sampai ke panggung nasional seperti AMI Awards.”
Antasan Banjar memandang perjalanan tersebut sebagai bagian dari kerja ekosistem: mempertemukan musisi dengan ruang pertunjukan, memperluas jejaring, mendorong dokumentasi dan produksi karya, serta membuka kemungkinan agar musik tradisi tidak berhenti sebagai praktik lokal, tetapi dapat terus berkembang dan menemukan publik baru.
Masuknya “Wadian Dadas” dan “Babun” ke dalam nominasi AMI Awards juga menghadirkan representasi yang menarik dari keragaman musikal Kalimantan Selatan. Satu karya berangkat dari tradisi Belian Dadas masyarakat Dayak Maanyan, sementara karya lainnya berangkat dari tradisi musikal Banua.
Keduanya menunjukkan bahwa kekayaan musik Kalimantan Selatan memiliki banyak pintu untuk dibaca, didengar, dan dikembangkan melalui praktik musik hari ini.
Antasan Banjar mengucapkan selamat dan apresiasi kepada Palui Banaran dan Ririt Campala. Dari Banua, karya-karya itu terus bergerak. Selamat untuk “Wadian Dadas”.Selamat untuk “Babun”.Selamat untuk Palui Banaran dan Ririt Campala.
Editor: Khairiadi Asa
