Trending

Baayun Maulid Tapin Jadi Pengingat Pendidikan Akhlak Dimulai dari Rumah

BUDAYA: Suasana Baayun Maulid di Masjid Keramat Al-Mukarromah, Banua Halat, Kabupaten Tapin - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL - Tradisi Baayun Maulid di Masjid Keramat Al-Mukarromah, Banua Halat, Kabupaten Tapin, kembali digelar bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, Selasa (25/8/2026).

Di balik prosesi mengayun anak yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Banjar tersebut, tersimpan pesan penting tentang pendidikan akhlak yang dimulai sejak lingkungan keluarga.

Pesan itu disampaikan Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin melalui Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel H. M. Syarifuddin saat menghadiri prosesi Baayun Maulid bersama ribuan peserta.

Mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah untuk Membentuk Generasi Cinta Rasulullah SAW, Kuat Iman dan Islam serta Berkarakter”, Baayun Maulid dinilai tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sarana menanamkan nilai keislaman dalam kehidupan keluarga.

“Salah satu tradisi Maulid yang paling tua di Banua adalah Baayun Maulid,” ujar Muhidin dalam sambutan tertulisnya yang disampaikan Sekdaprov Kalsel.

Menurutnya, tradisi tersebut merupakan perpaduan antara budaya Banjar dan nilai-nilai Islam yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Berbagai perlengkapan yang menghiasi ayunan, seperti kain sasirangan, janur, kelapa, pisang, ketupat hingga wadai khas Banjar, memiliki makna tersendiri.

Namun, Muhidin menekankan bahwa nilai utama dalam Baayun Maulid bukan terletak pada kemeriahan maupun ornamen yang digunakan.

“Yang paling berharga dari semua ayunan bukanlah hiasannya, melainkan ada pada doa-doanya,” tuturnya.

Muhidin kemudian mengaitkan tradisi tersebut dengan peran keluarga dalam membentuk karakter anak.

Menurutnya, Baayun Maulid menjadi pengingat bahwa pendidikan akhlak seharusnya ditanamkan sejak usia dini, bahkan dimulai dari lingkungan rumah.

“Pendidikan akhlak itu dimulai dari ayunan dan dari rumah. Keluarga adalah madrasah pertama dan orang tua adalah guru pertama,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya dibekali kemampuan intelektual, tetapi juga membutuhkan akhlak, iman, dan karakter yang kuat.

Karena itu, peringatan Maulid Nabi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai keteladanan Rasulullah SAW perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam lingkungan keluarga.

Muhidin berharap momentum Baayun Maulid semakin memperkuat kecintaan masyarakat kepada Rasulullah SAW sekaligus menjaga tradisi lokal yang memiliki nilai keagamaan.

Sementara itu, Ketua MUI Kalimantan Selatan TGH KH Ahmad Syairazi dalam tausiyahnya mengajak masyarakat menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum memperbanyak doa dan memohon keberkahan bagi Kalimantan Selatan.

Ia mengisahkan kondisi Kota Mekkah sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW yang menghadapi berbagai persoalan, termasuk kekeringan dan tingginya harga kebutuhan.

Kisah tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa kelahiran Rasulullah SAW membawa harapan dan keberkahan bagi umat.

“Maulid Nabi ini kita jadikan momentum untuk memohon keberkahan bagi Banua,” ujarnya.

Di tengah kondisi kemarau yang masih melanda sejumlah wilayah Kalsel, Ahmad Syairazi juga berharap doa yang dipanjatkan dalam momentum Maulid dapat menjadi ikhtiar bersama agar hujan segera turun.

“Kita berharap keberkahan Maulid ini, semoga hujan segera turun dan Banua senantiasa diberi keberkahan,” harapnya.

Tradisi Baayun Maulid di Masjid Keramat Al-Mukarromah Banua Halat pun kembali memperlihatkan bagaimana budaya dan nilai keagamaan dapat berjalan berdampingan.

Lebih dari sekadar prosesi tahunan, tradisi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi sekaligus mengingatkan keluarga akan pentingnya menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan pendidikan akhlak sejak dini.

Penulis: H. Faidur

Lebih baru Lebih lama