![]() |
| RAMAI: Ketua Komisi I DPRD Kalsel H. Rais Ruhayat menyampaikan nilai-nilai Pancasila kepada puluhan mahasiswa di Batola - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL - Ketua Komisi I DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, H. Rais Ruhayat, S.H., mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila sekaligus bijak menggunakan media sosial di tengah derasnya arus informasi digital.
Ajakan tersebut disampaikan saat kegiatan Sosialisasi Revitalisasi dan Aktualisasi Nilai-Nilai Ideologi Pancasila yang digelar di salah satu kafe di Kabupaten Barito Kuala. Kegiatan itu diikuti puluhan mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Banjarmasin dan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi kebangsaan.
Menurut Rais, Pancasila tidak boleh dipahami hanya sebagai dasar negara, tetapi harus menjadi pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
"Pancasila bukan hanya sekadar dasar negara yang dihafal di sekolah, tetapi harus menjadi pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, kita harus memastikan nilai-nilai luhur bangsa tetap hidup dan menjadi karakter generasi muda Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan," ujarnya.
Politisi Fraksi PAN itu menjelaskan, revitalisasi Pancasila berarti menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Sementara aktualisasi merupakan penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, dunia pendidikan, maupun ruang digital.
Ia menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang mampu menjaga persatuan serta memperkuat semangat kebangsaan.
"Mahasiswa adalah kelompok yang akan menentukan arah masa depan bangsa. Karena itu, saya mengajak teman-teman mahasiswa untuk menjadi generasi yang kritis, berintegritas, serta mampu memanfaatkan teknologi dan media sosial secara bijak. Jangan sampai ruang digital justru menjadi tempat berkembangnya hoaks, ujaran kebencian, dan perpecahan," katanya.
Dalam kesempatan itu, Rais juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, mulai dari penyebaran hoaks, provokasi berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), hingga menurunnya sikap toleransi di tengah masyarakat.
Menurutnya, tantangan tersebut harus dijawab dengan meningkatkan literasi digital serta memperkuat semangat persatuan.
"Di era digital saat ini, kemampuan menyaring informasi menjadi sangat penting. Jangan mudah percaya dan membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya. Generasi muda harus menjadi pelopor literasi digital yang sehat, menjaga etika bermedia sosial, serta selalu mengedepankan semangat persatuan dalam setiap perbedaan," tegasnya.
Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kampus, bermasyarakat, hingga aktivitas di media sosial.
Menutup kegiatan, Rais mengajak mahasiswa tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila melalui sikap toleran, gotong royong, saling menghargai, dan aktif berkontribusi bagi lingkungan.
"Revitalisasi Pancasila tidak boleh berhenti pada forum-forum diskusi seperti ini. Yang paling penting adalah bagaimana kita mengamalkannya dalam tindakan nyata. Jika generasi muda mampu menjaga nilai persatuan, toleransi, dan gotong royong, maka kita telah ikut menjaga masa depan Indonesia agar tetap bersatu, berdaulat, adil, dan sejahtera," pungkasnya.
Penulis: H. Faidur
