![]() |
| SOSOK: Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof. Dr. Ahmad Yunani, SE, M.Si, - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL - Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof. Dr. Ahmad Yunani, SE, M.Si, menilai percepatan hilirisasi menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi Kalimantan Selatan di tengah tekanan ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
Menurutnya, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) memang meningkatkan biaya impor berbagai kebutuhan industri, seperti alat berat, mesin, suku cadang, pupuk, hingga bahan kimia yang masih banyak didatangkan dari luar negeri.
"Pelemahan rupiah membuat biaya impor naik. Industri yang menggunakan bahan baku dan peralatan dari luar negeri akan menghadapi tekanan biaya yang lebih besar," katanya.
Meski demikian, Ahmad Yunani melihat kondisi tersebut juga membuka peluang bagi Kalimantan Selatan sebagai daerah yang mengandalkan ekspor komoditas.
Ia menjelaskan perusahaan yang bergerak di sektor batu bara, minyak sawit mentah (CPO), karet, dan hasil perikanan berpotensi memperoleh keuntungan lebih besar karena pendapatan diterima dalam dolar AS, sementara sebagian besar biaya operasional menggunakan rupiah.
"Perusahaan yang berorientasi ekspor bisa memperoleh keuntungan lebih besar karena pendapatannya dalam dolar AS, sementara sebagian biaya operasionalnya dalam rupiah," ujarnya.
Namun, ia mengingatkan Kalimantan Selatan tidak boleh terus bergantung pada ekspor komoditas primer, terutama batu bara. Pemerintah daerah didorong mempercepat hilirisasi sektor pertambangan, perkebunan, dan pertanian agar nilai tambah tetap berada di daerah.
Selain itu, pengembangan industri pengolahan, penguatan UMKM, ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan peluang investasi dari pembangunan IKN juga dinilai perlu terus diperkuat.
"Kita tidak boleh hanya bergantung pada komoditas primer. Hilirisasi harus dipercepat agar tercipta lapangan kerja baru, pendapatan daerah meningkat, dan ekonomi menjadi lebih tahan terhadap gejolak global," tegas Ahmad Yunani.
Penulis: H. Faidur
