![]() |
| SOSOK: Presiden ke-7 RI Joko Widodo - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA - Rencana safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Jawa Tengah menuai perhatian pengamat politik. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya meningkatkan elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI), meski peluang mengubah Jawa Tengah sebagai basis suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) disebut masih sangat berat.
Pandangan itu disampaikan Pengamat Politik CITRA Institute, Efriza, yang menilai target menjadikan Jawa Tengah sebagai "kandang gajah" masih menghadapi tantangan besar jika melihat kekuatan politik dan hasil Pemilu 2024.
Efriza menilai safari politik yang dijalankan Jokowi, yang telah dimulai dari Lampung dan direncanakan berlanjut ke Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah, tidak dapat dilepaskan dari kedekatan mantan presiden tersebut dengan PSI.
Menurutnya, agenda tersebut juga berkaitan dengan dinamika hubungan Jokowi, keluarganya, dan PSI dengan PDIP.
"Jelas bahwa Pak Jokowi maupun keluarga Jokowi dan PSI ini memang membuktikan, sakit hati itu masih ada terhadap PDI Perjuangan," kata Efriza dalam wawancara dengan Tribunnews untuk program On Focus yang diunggah di YouTube, Rabu (8/7/2026).
Selain itu, ia menilai safari politik tersebut merupakan bagian dari strategi meningkatkan elektabilitas PSI menjelang Pemilu 2029.
"PSI dengan Pak Jokowi sedang berusaha mencari sensasi, selain berupaya menaikkan elektabilitas," ujarnya.
Rencana safari politik Jokowi di Jawa Tengah sebelumnya mengemuka setelah Ketua DPW PSI Jawa Tengah Antonius Yogo Prabowo menyatakan pihaknya tengah menyiapkan agenda keliling Jawa Tengah bersama Jokowi.
Menurut Yogo, kegiatan tersebut menjadi bagian dari target PSI menjadikan Jawa Tengah sebagai "kandang gajah".
Target serupa sebelumnya juga disampaikan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep saat Rakorwil PSI Jawa Tengah di Solo pada Januari 2026.
Namun, Efriza menilai ambisi tersebut masih sulit diwujudkan apabila melihat perbandingan kekuatan elektoral kedua partai pada Pemilu 2024.
Data yang dipaparkannya menunjukkan PDIP memperoleh 5.270.261 suara di Jawa Tengah dan mengamankan 23 kursi DPR RI. Sementara itu, PSI meraih 477.883 suara dan tidak lolos ambang batas parlemen.
Menurut Efriza, persoalan utama PSI bukan hanya mengejar peningkatan suara, melainkan memperkuat struktur organisasi hingga tingkat akar rumput.
"Bukan soal masuk parlemennya, bukan soal mewujudkan suara, tapi bagaimana menghadirkan struktur partai PSI yang bekerja, dekat dengan rakyat, dan memang hadir bersama rakyat," katanya.
Ia menilai target mengubah Jawa Tengah dari "kandang banteng" menjadi "kandang gajah" saat ini masih sebatas retorika politik.
"Persentase terwujudnya sangat kecil," ujar Efriza, seraya menilai selisih perolehan suara kedua partai masih sangat jauh.
Selain faktor struktur partai, Efriza juga menyinggung sejumlah tantangan lain yang menurutnya dihadapi PSI, termasuk berbagai isu yang berkembang terkait sejumlah tokoh partai maupun Jokowi.
Sumber: Tribunnews.com

