![]() |
| SEPI: Pelaksanaan MPLS di salah satu sekolah dasar yang hanya diikuti dua orang murid - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA - Fenomena kekurangan murid baru pada tahun ajaran 2026/2027 semakin meluas di berbagai daerah di Indonesia. Ratusan sekolah dasar (SD) negeri dilaporkan gagal memenuhi kuota penerimaan siswa, bahkan ada yang hanya memperoleh satu hingga enam peserta didik baru.
Kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, mulai dari Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Fenomena ini menunjukkan tantangan baru dalam dunia pendidikan yang dipengaruhi perubahan demografi maupun pergeseran preferensi masyarakat dalam memilih sekolah.
Di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sebanyak 320 SD Negeri hanya menerima sekitar 11 hingga 28 siswa baru. Bahkan, dua sekolah hanya memperoleh satu murid pada tahun ajaran ini.
Situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Boyolali. Tidak hanya sekolah di daerah dengan jumlah penduduk sedikit, sejumlah SD Negeri yang selama ini dikenal sebagai sekolah favorit juga mulai kesulitan mendapatkan peserta didik baru.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, krisis peserta didik terjadi di Kabupaten Bantul hingga Kota Yogyakarta. Salah satu contohnya adalah SD Negeri Kintelan 2 Yogyakarta yang hanya menerima enam siswa baru.
Fenomena serupa juga dilaporkan di berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Madura, Ponorogo, Situbondo, Bondowoso, Lamongan, Madiun, Magetan, hingga Lumajang.
Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, mengatakan sedikitnya terdapat lima faktor yang menyebabkan banyak SD Negeri kehilangan peminat.
Menurutnya, lokasi sekolah masih menjadi pertimbangan utama orang tua. Mereka lebih memilih sekolah yang dekat dengan tempat tinggal agar anak lebih mudah berangkat dan pulang sekolah.
"Karena ini masih SD biar anaknya enggak jauh-jauh, maka lebih memilih sekolah yang di dekat rumah dia," ujar Retno, Rabu (15/7/2026).
Selain lokasi, terjadi pula perubahan pola pikir masyarakat. Orang tua kini tidak lagi menjadikan sekolah gratis sebagai pertimbangan utama, melainkan lebih mengutamakan kualitas pendidikan yang diberikan.
Retno juga menilai meningkatnya minat terhadap sekolah berbasis agama, khususnya Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), turut memengaruhi berkurangnya jumlah siswa di SD Negeri. Banyak orang tua berharap pendidikan agama anak dapat diperkuat sejak usia dini melalui kurikulum sekolah.
Faktor berikutnya adalah regulasi penerimaan murid baru di SD Negeri yang mengutamakan usia. Kebijakan tersebut membuat sebagian orang tua memilih langsung mendaftarkan anak ke sekolah swasta karena khawatir peluang diterima di sekolah negeri lebih kecil.
Selain itu, pergeseran domisili keluarga muda ke kawasan pinggiran kota akibat tingginya harga rumah di pusat kota juga ikut mengubah peta sebaran calon peserta didik.
Retno menilai kombinasi kelima faktor tersebut menjadi penyebab utama banyak SD Negeri mengalami kekurangan murid baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Sumber: Tribunnews.com

