![]() |
| KOMPAK: Foto bersama anggota Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL - Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) sebagai langkah memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam memperluas akses internet hingga ke wilayah yang masih mengalami blind spot.
Rakerwil yang berlangsung di Ballroom Grand Maya Hotel, Banjarbaru, mengusung tema "Kolaborasi, Sinergi dan Transformasi Digital untuk Internet Indonesia yang Maju dan Merata". Kegiatan ini menjadi forum penyusunan program kerja sekaligus memperkuat komitmen menghadirkan layanan internet yang lebih merata di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) APJII Kalselteng, M. Satria Budi Utama, mengatakan fokus organisasi ke depan adalah memperkuat kelembagaan, meningkatkan pelayanan kepada anggota, serta mendukung pemerintah dalam mengatasi wilayah yang belum terjangkau jaringan internet.
Menurutnya, perluasan jaringan ke daerah terpencil masih menghadapi berbagai tantangan teknis. Meski demikian, APJII berkomitmen menjalankan seluruh upaya sesuai ketentuan yang berlaku.
"Pastinya kita akan selalu berkoordinasi dan bersinergi dengan pemerintah. Secara teknis memang ada kendala, namun kami berkomitmen tidak ingin melanggar regulasi," ujar Satria.
Ia menambahkan, APJII juga akan terus mengakomodasi kebutuhan para anggota agar seluruh program kerja dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Kami ingin mengakomodir kawan-kawan anggota agar program setahun ke depan terlaksana dengan baik, dengan tetap mengedepankan pelayanan maksimal bagi masyarakat dan konsultasi yang intens dengan keanggotaan," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kalimantan Selatan, Muhamad Muslim, menyambut baik pelaksanaan Rakerwil tersebut. Ia berharap APJII dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperluas akses internet, terutama di wilayah yang hingga kini masih belum terlayani secara optimal.
Menurut Muslim, sekitar enam persen wilayah di Kalimantan Selatan masih tergolong blind spot sehingga membutuhkan solusi bersama antara pemerintah dan penyelenggara jasa internet.
"Kami dari pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap upaya peningkatan akses jaringan yang lebih luas di Kalimantan Selatan. Terkait sisa 6 persen wilayah blind spot, kami berharap teman-teman APJII dapat memberikan alternatif solusi konkret karena secara teknis mereka yang lebih memahami," ujarnya.
Ia juga menilai perlunya pembahasan bersama apabila terdapat kendala regulasi dalam pengembangan jaringan telekomunikasi.
"Kita perlu diskusikan celah regulasi apa yang bisa dibuat agar jaringan internet ini bisa sampai ke wilayah paling pinggir sekalipun. Tujuannya adalah seluruh masyarakat Kalimantan Selatan dapat menikmati jaringan internet," tambahnya.
Dukungan juga datang dari pengurus pusat APJII. Ketua Bidang Pengembangan Wilayah 2 APJII, I Gede Yudhatama, mengapresiasi perkembangan APJII Kalselteng yang dinilai cukup pesat sejak berdiri sebagai wilayah tersendiri setelah sebelumnya bergabung dengan Kalimantan Timur.
Ia menyebut jumlah anggota APJII Kalselteng meningkat dari sekitar 14 menjadi hampir 30 anggota dalam waktu relatif singkat.
Selain itu, Yudhatama mengingatkan pentingnya menjaga soliditas organisasi agar pertumbuhan yang telah dicapai dapat terus berlanjut.
"Pesan kami dari pusat, tetap guyub dan jaga kekompakan. Kalau anggota di wilayah tidak guyub, nanti malah saling menjatuhkan. Tetap kompak untuk maju bersama, baik untuk kemajuan wilayah Kalselteng maupun nasional pada umumnya," pungkasnya.
Melalui Rakerwil perdana ini, APJII Kalselteng berharap sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan semakin kuat sehingga pemerataan akses internet di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dapat dipercepat, termasuk di wilayah-wilayah yang selama ini masih mengalami keterbatasan jaringan.
Penulis: Rian

