![]() |
| MATA UANG: Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah kembali membuka peluang sekaligus risiko bagi dunia usaha. Saat mata uang Garuda menembus level Rp18.016 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6), sejumlah sektor diperkirakan akan merasakan dampak yang berbeda.
Data Google Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp18.016 per dolar AS sekitar pukul 09.00 WIB. Posisi tersebut menandai kembalinya rupiah bergerak di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang selama beberapa waktu terakhir menjadi perhatian pelaku pasar.
Di tengah tekanan yang dihadapi rupiah, sektor berorientasi ekspor justru diperkirakan mendapat keuntungan. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar pendapatan perusahaan diperoleh dalam dolar AS, sedangkan biaya operasional masih menggunakan rupiah.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menilai sektor berbasis sumber daya alam menjadi kelompok yang paling berpeluang menikmati keuntungan dari pelemahan rupiah.
"Pemenang utama adalah sektor berbasis SDA dan berorientasi ekspor dengan biaya dominan rupiah dan pendapatan USD. Batu bara, migas, CPO, nikel, karet, pulp & paper, perkebunan ekspor, serta manufaktur ekspor dengan kandungan lokal tinggi menjadi sektor yang diuntungkan," kata Nanang.
Menurut dia, perusahaan yang bergerak di sektor komoditas ekspor dapat memperoleh tambahan keuntungan dari selisih nilai tukar ketika pendapatan dalam dolar AS dikonversi ke rupiah.
Tidak hanya sektor komoditas, industri manufaktur yang memiliki pasar ekspor kuat dan tingkat penggunaan bahan baku lokal yang tinggi juga berpotensi menikmati dampak positif. Industri furnitur, produk kayu, dan tekstil ekspor termasuk dalam kategori tersebut.
Di sisi lain, pelemahan rupiah menjadi tantangan bagi industri yang masih mengandalkan impor bahan baku maupun pembiayaan dalam mata uang asing.
Nanang menyebut sektor manufaktur seperti kimia, petrokimia, plastik, elektronik, dan otomotif sebagai kelompok yang paling rentan terdampak.
"Yang paling terpukul adalah industri dengan ketergantungan impor tinggi dan utang valas. Manufaktur, farmasi dan alat kesehatan, tekstil untuk pasar domestik, makanan-minuman berbahan impor, serta perusahaan infrastruktur dan transportasi dengan pinjaman dolar akan menghadapi tekanan lebih besar," ujarnya.
Kenaikan biaya impor berpotensi mengurangi margin keuntungan perusahaan jika tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual. Risiko serupa juga mengintai perusahaan yang memiliki kewajiban pembayaran utang dalam dolar AS karena nilai cicilan akan menjadi lebih mahal dalam rupiah.
Sementara itu, sektor farmasi dan alat kesehatan dinilai masih menghadapi tantangan besar karena sebagian bahan bakunya berasal dari luar negeri. Kondisi yang sama juga dirasakan industri makanan dan minuman yang masih menggunakan bahan baku impor dalam jumlah tertentu.
Selain dunia industri, pelemahan rupiah juga dapat memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata. Nilai tukar yang lebih rendah membuat biaya perjalanan dan pengeluaran wisatawan asing di Indonesia menjadi relatif lebih murah dibandingkan sebelumnya.
"Pariwisata juga berpotensi diuntungkan karena Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing, sepanjang faktor non-kurs mendukung," kata Nanang.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kurs bukan satu-satunya faktor yang menentukan peningkatan kunjungan wisatawan. Aspek keamanan, kualitas destinasi, akses transportasi, serta kondisi ekonomi global tetap berperan penting dalam menarik wisatawan mancanegara.
Pelemahan rupiah yang kembali menembus level Rp18.000 per dolar AS menunjukkan bahwa ketidakpastian global masih menjadi faktor yang memengaruhi pasar keuangan. Dalam kondisi seperti ini, pelaku usaha dituntut lebih cermat mengelola risiko kurs agar dampak fluktuasi nilai tukar dapat diminimalkan.
Sumber: Merdeka.com

