![]() |
| MATA UANG: Nilai tukar rupiah tembus Rp18.000 mengancam terhadap APBN - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dollar Amerika Serikat (AS) berpotensi memberikan tekanan besar terhadap keuangan negara, terutama ketika terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak dunia.
Lembaga riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperkirakan kombinasi kurs rupiah yang melemah dan lonjakan harga minyak global dapat meningkatkan beban impor energi Indonesia hingga ratusan triliun rupiah serta memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Tekanan tersebut muncul karena Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan minyak dalam negeri. Di saat yang sama, harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional telah menyentuh 95,03 dollar AS per barrel pada Jumat (5/6/2026), dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Dalam laporan Center of Macroeconomics and Finance (MacFin) INDEF, perhitungan dilakukan menggunakan asumsi dasar APBN 2026 dengan kurs Rp16.500 per dollar AS dan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 70 dollar AS per barrel.
Berdasarkan estimasi volume impor minyak Indonesia yang mencapai sekitar 405,56 juta barrel per tahun, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dollar AS per barrel dapat menambah tagihan impor sekitar Rp6,69 triliun. Sementara itu, setiap pelemahan kurs sebesar Rp250 per dollar AS berpotensi menambah beban impor sekitar Rp7,10 triliun.
"Dengan volume tersebut, setiap kenaikan harga minyak 1 dollar AS per barrel pada kurs baseline menambah import bill sekitar Rp6,69 triliun. Sementara itu, setiap pelemahan kurs Rp250 per dollar AS pada ICP baseline 70 dollar AS per barrel menambah import bill sekitar Rp7,10 triliun," tulis INDEF dalam laporannya.
INDEF kemudian mensimulasikan berbagai skenario kurs rupiah dan harga minyak dunia. Hasilnya menunjukkan risiko fiskal meningkat ketika pelemahan nilai tukar terjadi bersamaan dengan kenaikan harga energi global.
Pada skenario kurs Rp18.000 per dollar AS dan harga minyak 90 dollar AS per barrel, tambahan beban impor minyak diperkirakan mencapai Rp188,58 triliun dibandingkan asumsi dasar APBN 2026. Kondisi tersebut berpotensi mendorong defisit APBN menjadi sekitar 3,41 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), melampaui target pemerintah sebesar 2,68 persen.
Tekanan fiskal akan semakin besar apabila harga minyak terus meningkat. Dalam simulasi INDEF, kombinasi kurs Rp18.000 per dollar AS dan harga minyak 95 dollar AS per barrel diperkirakan menambah beban impor hingga Rp225,08 triliun dibandingkan baseline APBN.
Dengan tambahan beban tersebut, defisit APBN berpotensi melebar menjadi sekitar 3,56 persen terhadap PDB. Angka tersebut berada di atas target yang telah ditetapkan pemerintah dalam APBN 2026.
Sementara itu, jika harga minyak mencapai 100 dollar AS per barrel dengan kurs tetap di level Rp18.000 per dollar AS, tambahan biaya impor minyak diperkirakan meningkat menjadi Rp261,58 triliun. Dalam kondisi tersebut, defisit APBN berpotensi menembus 3,7 persen terhadap PDB.
"Hasil simulasi menunjukkan bahwa defisit masih relatif terkendali pada skenario moderat, terutama ketika ICP berada di sekitar 70-80 dollar AS per barrel dan kurs tidak melemah jauh dari baseline. Namun, kombinasi kurs di atas Rp17.000 per dollar AS dan harga minyak mendekati 90 dollar AS per barrel atau lebih mulai mendorong defisit mendekati atau melewati batas 3 persen PDB," jelas INDEF.
Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, INDEF merekomendasikan sejumlah langkah, antara lain pengendalian subsidi dan kompensasi energi, diversifikasi sumber pasokan energi, penguatan cadangan devisa, serta penyesuaian kebijakan energi yang lebih terarah agar beban impor tidak sepenuhnya ditanggung APBN.
Sumber: Kompas.com

