Trending

Rupiah Menguat ke Rp17.860 per Dolar AS, Ini Pendorongnya

MATA UANG: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penguatan - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan Jumat (12/6/2026) di zona positif. Mata uang Garuda ditutup menguat 128 poin atau sekitar 0,71 persen ke level Rp17.860 per dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang dinilai memberikan optimisme bagi pelaku pasar.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu faktor yang menopang pergerakan rupiah berasal dari perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, pasar merespons positif kabar mengenai kemajuan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden AS Donald Trump disebut membatalkan rencana serangan yang sebelumnya dipertimbangkan, sementara peluang tercapainya kesepakatan yang dapat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz turut menjadi perhatian investor.

“Selat tersebut biasanya dilalui seperlima dari pengiriman minyak dan gas alam cair global, dan blokade Teheran selama berbulan-bulan telah membuat harga energi tetap tinggi,” kata Ibrahim.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Setiap perkembangan terkait keamanan dan kelancaran pelayaran di kawasan tersebut dinilai dapat memengaruhi pergerakan harga energi global dan sentimen pasar keuangan.

Di sisi lain, pasar juga mencermati data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan tekanan inflasi masih cukup tinggi. Data harga produsen pada Mei 2026 tercatat meningkat lebih besar dari perkiraan dan menjadi kenaikan tahunan tertinggi dalam tiga setengah tahun terakhir.

Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve berpotensi kembali memperketat kebijakan moneternya pada akhir tahun. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai sekitar 60 persen.

Sementara dari dalam negeri, sentimen positif datang dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia. Lembaga tersebut menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5,0 persen dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,7 persen.

Revisi tersebut didukung oleh kinerja ekonomi nasional yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal pertama 2026. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat tumbuh 5,6 persen secara tahunan, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta peningkatan investasi.

Momentum Ramadan dan Idulfitri, percepatan pembayaran tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur sipil negara, serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut berkontribusi terhadap pertumbuhan konsumsi masyarakat.

Selain itu, investasi atau pembentukan modal tetap bruto pada kuartal pertama tahun ini juga tumbuh 6 persen, menunjukkan aktivitas ekonomi yang tetap kuat.

Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan peluang melanjutkan penguatan.

Ia memproyeksikan rupiah berpotensi bergerak pada kisaran Rp17.860 hingga Rp18.910 per dolar AS dalam perdagangan harian, sementara dalam sepekan diperkirakan berada di rentang Rp17.780 hingga Rp18.040 per dolar AS.

Sumber: Inews.id

Lebih baru Lebih lama