Trending

Rakornas Pariwisata 2026, Gubernur Muhidin Harapkan Pariwisata Kalsel Semakin Berkembang

KOORDINASI: Pemprov Kalsel mengikuti Rakornas Pariwisata 2026 secara virtual - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2026 yang digelar Kementerian Pariwisata RI secara virtual di Command Center Setda Provinsi Kalsel, Banjarbaru, Rabu (20/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin diwakili Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi Kalsel, Dinansyah. Turut mendampingi Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Kalsel, Gusti Muhammad Yosalvina Yovani.

Rakornas diawali dengan penampilan Tari Nusantara oleh Papua Allstar sebelum dilanjutkan sesi pemaparan dari sejumlah narasumber nasional.

Melalui kesempatan itu, Gubernur Muhidin menyampaikan sektor pariwisata di Kalimantan Selatan terus dikembangkan melalui berbagai kebijakan strategis yang selaras dengan program pemerintah pusat.

“Melalui Rakornas ini, kami berharap sektor pariwisata di Kalimantan Selatan dapat semakin berkembang, baik dari sisi destinasi, pelayanan, maupun kualitas sumber daya manusia sehingga mampu meningkatkan daya saing daerah,” ujar Dinansyah menyampaikan pesan Gubernur Kalsel.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Prof. Mari Elka Pangestu, menegaskan sektor pariwisata memiliki peran penting sebagai salah satu penopang perekonomian nasional.

Menurutnya, kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional berada pada kisaran 4 hingga 4,8 persen. Jika memperhitungkan efek berganda (multiplier effect), kontribusinya dapat mencapai 9 hingga 10 persen.

“Fokusnya bukan hanya meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga kualitas pariwisata yang diukur dari besarnya pengeluaran wisatawan, jenis wisata yang dilakukan, serta bagaimana destinasi wisata tetap terjaga,” katanya.

Prof. Mari juga menyebut investasi di sektor pariwisata menunjukkan tren positif. Pada 2025, investasi di sektor tersebut meningkat sekitar 56 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, ia menyoroti posisi Indonesia dalam daya saing pariwisata global. Meski menempati peringkat kedua di ASEAN, Indonesia masih berada di posisi ke-22 dari 119 negara di dunia.

Menurutnya, kekuatan utama Indonesia terletak pada kekayaan sumber daya alam dan budaya yang perlu dikembangkan dengan prinsip sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan.

“Pariwisata harus tumbuh tanpa merusak lingkungan, tetap menjaga budaya, serta mampu meningkatkan nilai ekonomi dan inklusivitas,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya digitalisasi sektor pariwisata, peningkatan literasi digital bagi UMKM, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, dan komunitas.

Di tengah situasi geopolitik global dan konflik di Timur Tengah, lanjut Prof. Mari, Indonesia memiliki peluang menjadi alternatif destinasi maupun jalur transit wisatawan Asia.

Ia turut mengapresiasi perkembangan sistem pembayaran digital di Indonesia yang dinilai semakin inklusif hingga menjangkau pelaku UMKM, termasuk dibukanya akses pembayaran digital bagi wisatawan asal China melalui Alipay.

“Destinasi wisata perlu dirancang dengan segmentasi yang jelas agar pengembangannya lebih tepat sasaran dan memberikan nilai tambah yang optimal,” tutupnya.

Penulis: H. Faidur

Lebih baru Lebih lama