![]() |
| PUPUK BERSUBSIDI: Ilustrasi tumpukan pupuk urea - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan adanya lonjakan permintaan pupuk urea dari sejumlah negara di tengah dinamika pasokan global.
Sedikitnya empat negara India, Australia, Filipina, dan Brasil telah mengajukan permintaan impor pupuk dari Indonesia.
“Pupuk ini yang meminta langsung Dubes India menelepon, kemudian juga Australia, Filipina, dan Brasil. Empat negara ini memohon agar mendapatkan urea,” kata Amran usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rabu (22/4/2026).
Menurut Amran, India menjadi salah satu negara dengan permintaan terbesar. Negara tersebut mengajukan kebutuhan sekitar 500 ribu ton pupuk urea.
“India menelepon lima hari yang lalu kalau tidak salah, meminta 500 ribu ton pupuk urea. Australia sudah putus 250 ribu ton tahap pertama,” ujarnya.
Sementara itu, permintaan dari Filipina dan Brasil masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut.
Amran menegaskan Indonesia memiliki ruang untuk memenuhi permintaan ekspor tersebut karena produksi pupuk nasional masih melampaui kebutuhan dalam negeri.
Saat ini, produksi pupuk nasional mencapai sekitar 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik berada di kisaran 6 juta ton. Dengan kondisi tersebut, terdapat potensi surplus yang dapat dimanfaatkan untuk ekspor.
“Nah, kita kemungkinannya kita lepas satu juta ton,” katanya.
Ia menilai meningkatnya permintaan global ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kinerja ekspor sektor pertanian. Namun demikian, pemerintah tetap berhati-hati agar kebijakan ekspor tidak mengganggu pasokan dalam negeri.
Selain pupuk, Amran juga menyoroti tren positif kinerja ekspor komoditas pertanian lainnya di tengah dinamika geopolitik global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor nasional meningkat sekitar Rp167 triliun, sementara impor menurun sekitar Rp41 triliun.
“Kita ada naik ekspor kita Rp167 triliun. Dan itu data BPS, bukan data Pertanian ya. Impor kita menurun, kurang lebih nilainya Rp41 triliun. Jadi kita dapat keuntungan Rp200 triliun,” ungkapnya.
Sebelumnya, Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, telah bertemu dengan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono pada 16 April 2026 untuk membahas rencana impor pupuk urea dari Indonesia.
Pemerintah menilai, dengan potensi surplus produksi yang dimiliki, Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan ekspor, dengan tetap menjaga keseimbangan kebutuhan dalam negeri.
Sumber: Liputan6.com

