Trending

Iran Tolak Gencatan Senjata Usulan AS, Pilih Akhiri Perang Secara Permanen

RAMAI: Aksi demo akibat pecahnya peperangan antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran - Foto Dok Istimewa

RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Pemerintah Iran menegaskan penolakannya terhadap usulan gencatan senjata selama 45 hari yang diajukan Amerika Serikat. Teheran menilai langkah tersebut hanya akan menjadi akhir perang yang dipaksakan dan tidak menyelesaikan konflik secara menyeluruh.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan bahwa negaranya menginginkan penyelesaian konflik yang bersifat permanen, bukan penghentian sementara yang berpotensi memicu eskalasi lanjutan.

Dalam konferensi pers di Teheran, Senin (6/4/2026), Baqaei menegaskan bahwa jeda konflik hanya akan dimanfaatkan pihak lawan untuk memperkuat kembali kemampuan militernya.

"Batas waktu tidak boleh membuat kita sedikit pun ragu dalam membela negara kita," ujarnya.

Ia menilai gencatan senjata justru berisiko menciptakan ruang bagi lawan untuk mengatur ulang strategi sebelum kembali melancarkan serangan.

"Tidak ada orang rasional yang akan menerima tindakan seperti itu," katanya.

Lebih lanjut, Baqaei mengungkapkan bahwa Iran telah menyampaikan sejumlah persyaratan melalui jalur diplomatik tidak langsung. Ia juga memastikan bahwa berbagai tuntutan dari pihak AS, termasuk rencana 15 poin, telah ditolak karena dinilai tidak realistis.

"Iran tidak ragu untuk menyampaikan tuntutan yang dianggap sah secara jelas. Hal itu bukan tanda kompromi, melainkan cerminan kepercayaan diri dalam mempertahankan posisinya," tutur Baqaei.

Menurut laporan, Teheran menyampaikan responsnya melalui Pakistan dalam dokumen berisi 10 poin. Salah satu alasan utama penolakan gencatan senjata adalah pengalaman masa lalu, di mana Iran disebut mengalami serangan saat proses negosiasi masih berlangsung.

Dalam dokumen tersebut, Iran mengajukan sejumlah tuntutan, antara lain penghentian konflik di kawasan, jaminan keamanan jalur di Selat Hormuz, rekonstruksi wilayah terdampak, serta pencabutan sanksi internasional.

Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih menyebut bahwa proposal gencatan senjata 45 hari hanyalah salah satu dari berbagai opsi yang tengah dipertimbangkan Washington.

Menutup pernyataannya, Baqaei menegaskan bahwa Iran menginginkan akhir konflik yang disertai jaminan kuat agar perang tidak kembali terjadi.

"Tuntutan kami adalah mengakhiri perang yang dipaksakan ini, disertai jaminan bahwa siklus kejam ini tidak akan terulang," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa jaminan tersebut harus diwujudkan melalui efek jera terhadap pihak lawan.

"Jaminannya adalah bahwa musuh harus dibuat menyesali tindakannya sedemikian rupa sehingga tidak lagi memiliki keberanian untuk bertindak melawan kedaulatan Iran," ungkap Baqaei.

Selain itu, ia juga menyampaikan keraguan terhadap peran Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dinilai tidak mampu memberikan jaminan keamanan yang netral.

"Tidak ada jaminan hukum atau internasional. Sayangnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam banyak kasus justru menjadi alat di tangan AS dan kekuatan tertentu," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Iran harus mengandalkan kekuatan sendiri dalam menjaga keamanan nasional dan kedaulatannya.

Sumber: Merdeka.com

Lebih baru Lebih lama