Trending

AS–Iran Bahas Gencatan Senjata 45 Hari, Ketegangan Selat Hormuz Masih Tinggi

BENDERA: Ilustrasi konflik antara Amerika Serikat dengan Iran yang masih memanas - Foto Dok Istimewa 

RILISKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Upaya diplomatik untuk meredakan konflik di Timur Tengah terus bergulir. Amerika Serikat, Iran, serta sejumlah mediator regional dilaporkan tengah membahas skema gencatan senjata sementara selama 45 hari yang berpotensi membuka jalan menuju perdamaian permanen.

Laporan yang dikutip dari Axios menyebutkan, pembahasan difokuskan pada kesepakatan dua tahap. Tahap pertama berupa gencatan senjata selama 45 hari, sementara tahap kedua diarahkan pada pengakhiran permanen perang.

Dalam skema tersebut, masa gencatan senjata juga dapat diperpanjang jika diperlukan waktu tambahan untuk menyelesaikan perundingan.

Namun di tengah upaya diplomasi, ketegangan masih tinggi. Presiden AS, Donald Trump, memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz paling lambat Selasa (7/4/2026) malam.

Trump bahkan mengancam akan menyerang infrastruktur penting Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

Sementara itu, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan melonggarkan kontrol terhadap jalur pelayaran strategis tersebut. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menyebut ancaman tersebut sebagai tindakan sembrono.

“Anda tidak akan mendapatkan apa pun melalui kejahatan perang,” tulis Qalibaf. “Satu-satunya solusi nyata adalah menghormati hak-hak rakyat Iran dan mengakhiri permainan berbahaya ini.”

Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, arus pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan turun drastis hingga lebih dari 90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jalur ini sendiri merupakan salah satu urat nadi energi global, yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Dampaknya, harga minyak mentah dunia melonjak signifikan. Harga Brent tercatat menembus sekitar 109 dolar AS per barel, meningkat tajam sejak awal konflik.

Di tengah situasi tersebut, berbagai negara terus mendorong jalur diplomasi. Oman, Mesir, hingga Rusia terlibat dalam komunikasi intensif guna mencari solusi pembukaan kembali jalur pelayaran dan meredakan konflik.

Korban jiwa akibat perang juga terus bertambah. Lebih dari 1.900 orang dilaporkan tewas di Iran, sementara ribuan lainnya terdampak di Lebanon, Israel, dan kawasan sekitarnya.

Meski ancaman militer masih membayangi, upaya negosiasi gencatan senjata menjadi harapan utama untuk meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.

Sumber: Tribunnews.com

Lebih baru Lebih lama