![]() |
| Musyawarah Masyarakat Seni menghadirkan dua pemanti; Noorhalis Majid dan Edi Sutardi, dimoderatori Hajriansyah. (Foto: Yadie Asa) |
RILISKALIMANTAN.COM - Hingga saat ini Kota Banjarmasin belum memiliki gedung yang representatif mampu menampung aktivitas berkesenian, seperti layaknya di beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Padahal sumberdaya seniman dan aktivitas berkesenian para senimannya sangat menonjol. Pemikiran ini mencuat saat berlangsungnya "Musyawarah Masyarakat Seni dan Ngaji Puisi #6" di Banjarmasin Culture Hub (ex Rumah Anno 1925), Jumat (13/3/2026).
Acara yang digagas Dewan Kesenian Kota Banjarmasin ini sedikitnya dihadiri 80-an seniman dari berbagai bidang seni. Mulai dari kalangan sastrawan, pemusik, pelukis, penari, teater, film, seniman tradisi, Dewan Kesenian Kalsel dan pegiat lembaga kebudayaan Banjar lainnya.
Menurut Zulfaisal Putera, mantan Kabid Kebudayaan Disbudporapar Banjarmasin, sebelumnya pernah dari Kementerian Dikbudristek menawarkan dana untuk pembangunan Gedung Kesenian Kota Banjarmasin. Namun terbentur persyaratan soal ketersediaan lahan yang cukup besar, minimal sekitar 10 hektar.
"Sewaktu saya diberi kepercayaan sebagai Kabid Kebudayaan di periode pertama dan kedua sudah dapat tawaran dari Kementerian Dikbudristek, mereka menyiapkan dana untuk pembangunan gedung kesenian dengan catatan Kota Banjarmasin harus menyiapkan lahan, diperlukan 10 hektar atau lebih. Saat itu sempat ditawarkan di Jl Tembus Mantuil Basirih, tapi lokasinya sangat jauh dari pusat kota. Sebagai destinasi wisata akan sangat tidak menguntungkan. Nah, karena tidak ada lahan itulah kita tidak bisa membangun gedung kesenian," ujar Zulfaisal Putera yang juga sebagai seorang sastrawan yang hadir dalam Musyawarah Masyarakat Seni.
Menurut Zulfaisal Putera pihaknya saat itu sudah survei ke Balikpapan, karena kota ini memiliki gedung kesenian terbesar dan terlengkap setelah Taman Ismail Marzuki (TIM). Dalam gedung itu ada sekretariat dewan kesenian, ada sekretariat lembaga adat, ada untuk UMKM, kemudian ada panggung-panggung terbuka atau outdoor. Dan yang lebih utama ada gedung yang representatif.
![]() |
| Para peserta antusias memberikan pandangan dan masukan. (Foto: Yadie Asa) |
"Saya berharap Banjarmasin memprioritaskan itu. Kita tidak bisa menumpang di Taman Budaya Kalimantan Selatan, karena itu milik Pemerintah Provinsi Kalsel," tandasnya.
Kegiatan "Musyawarah Masyarakat Seni dan Ngaji Puisi #6" kemarin menghadirkan dua narasumber/pemantik, yakni Edi Sutardi dan Noorhalis Majid. Keduanya menyampaikan pandangan bagaimana kehidupan berkesenian dan ekosistem para senimannya, potensi dan tantangan yang dihadapi, serta peran lembaga-lembaga lain di luarnya.
Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarmasin, Hajriansyah, menyampaikan tujuan digelarnya kegiatan tersebut sebagai salah satu upaya untuk menyerap aspirasi masyarakat seni yang ada di kota ini.
"Alhamdulillah dari 100 orang seniman yang kita undang yang hadir tercatat ada 86 seniman. Apa-apa yang mereka sampaikan di musyawarah ini akan menjadi catatan bagi kami yang sebentar lagi di tahun ini juga akan melaksanakan musyawarah seniman (musen) yang ke-5, dimana kepengurusan Dewan Kesenian Kota Banjarmasin periode 2021-2026 akan berakhir," ujar Hajriansyah
Hajriansyah juga berharap hubungan kemitraan yang saling meningkatkan bagi kebudayaan di Kota Banjarmasin, termasuk dukungan fasilitasi pemerintah baik ruang maupun program-program yang dapat meningkatkan SDM kesenian, agar para seniman dapat hidup secara layak dari kesenian yang digelutinya. Termasuk gedung kesenian sangat diperlukan, sebab kegiatan seni di kota seribu sungai ini sangat berlimpah.
Kegiatan yang dikemas dengan acara buka puasa bersama ini juga dihadiri Ketua Dewan Kesenian Kalsel H Taufik Arbain. Ia sangat menghargai berbagai pandangan dan masukan yang ada dari peserta yang hadir begitu antusias.
"Kami juga pernah menyampaikan di rapat Kerja pertama DK Kalsel tahun 2023 tentang usulan gedung kesenian ke Pemerintah Provinsi Kalsel untuk memfasilitasi kawan-kawan seniman dan budayawan memiliki ruang dan panggung untuk berekspresi, menampilkan karya mereka. Meskipun sudah ada Taman Budaya. Tapi mengingat banyaknya seniman dan aktivitas mereka maka hal itu diperlukan," ujar H Taufik Arbain.
![]() |
| Ketua Dewan Kesenian Kalsel H Taufik Arbain saat memberikan tanggapan. (Foto: Yadie Asa) |
Hadir juga anggota DPRD Provinsi Kalsel Ilham Noor, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Banjarmasin M. Ikhsan Alhak, Kabid Kebudayaan Disbudporapar Banjarmasin, pelukis Misbach Tamrin, Khairiadi Asa, Gusti Ardiansyah, Ely Rahmi, perwakilan Laung Kuning Banjar, dan lainnya.
Penulis: Khairiadi Asa



