Trending

Seniman di Era Artificial Intelligence (AI): Alat Baru atau Awal Ketergantungan?

Oleh: Novyandi Saputra


Beberapa waktu terakhir, saya menyaksikan perubahan yang terasa sangat cepat. Poster acara bisa dibuat dalam hitungan detik. Musik ilustrasi untuk pertunjukan dapat dihasilkan tanpa pemain. Sketsa visual yang dulu memerlukan jam latihan kini muncul seketika di layar. Artificial Intelligence (AI) bukan lagi teknologi masa depan; ia sudah menjadi bagian dari keseharian kerja kreatif.

Seniman sendiri tidak satu suara dalam menolak ataupun menerimanya. Ada yang menyambutnya sebagai revolusi, ada yang menolaknya sebagai ancaman. Namun perdebatan ini sering berhenti pada pertanyaan sederhana: apakah AI akan menggantikan seniman? Padahal persoalan yang lebih penting adalah bagaimana relasi kekuasaan, ekonomi, dan makna seni berubah ketika mesin dapat meniru proses kreatif manusia.

Menurut laporan Creative Economy Outlook dari UNESCO, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 3 persen dari PDB global dan menyerap puluhan juta tenaga kerja. Seni dan budaya bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi sumber penghidupan. Di sisi lain, studi McKinsey & Company (2023) memperkirakan teknologi generatif AI dapat mengotomatisasi sebagian tugas kreatif; seperti desain visual, penulisan dasar, dan produksi media yang selama ini menjadi pintu masuk pekerjaan bagi banyak pekerja kreatif muda.

Data ini memperlihatkan bahwa AI bukan hanya alat teknis, melainkan kekuatan ekonomi baru.

Platform AI dilatih menggunakan miliaran gambar, teks, dan musik yang sebagian besar diambil dari karya manusia. Banyak seniman mempertanyakan keadilan proses ini: karya mereka menjadi data pelatihan tanpa izin atau kompensasi. Akhir-akhir ini banyak ditemukan gugatan hukum terhadap perusahaan teknologi di Amerika dan Eropa sebagai daerah utama penghasil teknologi AI. Gugatan-gugatan ini menandai munculnya konflik baru tentang hak cipta, kepemilikan gaya, dan nilai kreativitas.

Pada sisi lain negara-negara yang masih berkembang menjadi konsumen utama menikmati hasil dari kerja ringkas AI ini. Saya juga menduga penggunaan AI yang berlebihan ini hasil dari perilaku konsumtif dan kultur “praktis” yang ditumbuhkembangkan oleh teknologi masa kini.

Masalahnya kemudian tak banyak orang sadar bahwa ini bukan sekadar teknologi, tetapi distribusi nilai. Saya kemudian bertanya-tanya, siapa yang mendapat keuntungan dari kreativitas kolektif manusia?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan bagi seniman di wilayah seperti Kalimantan, yang sejak lama berjuang melawan keterbatasan akses infrastruktur budaya. AI di satu sisi membuka peluang: produksi visual, pengolahan suara, hingga distribusi karya kini dapat dilakukan secara mandiri dengan biaya rendah. Teknologi memberi kemampuan baru untuk melompati hambatan geografis.

Namun di sisi lain, estetika global yang dihasilkan algoritma berpotensi menenggelamkan identitas lokal. Ketika ribuan gambar dihasilkan dari pola visual yang sama, ketika musik dihasilkan dari dataset global, ketika desain mengikuti tren algoritmik, maka seni berisiko kehilangan konteks sosial dan akar budayanya.

Saya sering menemukan bahkan pada akun-akun yang mengatasnamakan institusi kebudayaan mulai menggunakan AI untuk mempermudah kerja kreatifnya dalam menyampaikan informasi budaya. Tapi yang mereka lupa banyak motif, data, dan nilai lokalitas yang menjadi kabur bahkan melenceng dari fakta budayanya.

Pada sisi personal seniman, produksi karya memang kemudian menjadi sangat banyak dan bahkan cenderung sporadis. Seniman lupa bahwa AI tak melulu bisa membaca “keunikan” dari kekuatan fikiran dan teknis seniman itu sendiri. AI hanya membuat landskap besar misal musik, gambar, dan lainnya. AI tak pernah bisa membaca dan memproduksi nilai-nilai yang khas dari seorang seniman. Nilai yang saya maksud ada sisi humanisme; tidak sempurna, upaya membentuk beda dan berkonteks rasa.

AI cenderung menghasilkan apa yang paling sering dilihat, bukan apa yang paling mendalam dialami. Disinilah persoalan kultural muncul: apakah seni akan semakin seragam karena dikendalikan pola data global?

Dalam sejarah seni, teknologi selalu memicu ketegangan. Kamera pernah ditakuti akan membunuh lukisan. Synthesizer pernah dianggap mengancam musik akustik. Perangkat lunak desain pernah dianggap merusak keterampilan manual. Namun setiap teknologi akhirnya menjadi bahasa baru dalam praktik seni. AI berbeda karena ia tidak hanya membantu produksi; ia meniru kreativitas.

Ia dapat meniru gaya pelukis, menghasilkan komposisi musik, bahkan menulis puisi dengan struktur yang meyakinkan. Tetapi ia tidak memiliki pengalaman hidup, ingatan tubuh, atau relasi sosial. Ia mengolah pola, bukan pengalaman.

Jika seniman berhenti pada hasil instan, maka yang hilang bukan pekerjaan, melainkan proses pencarian. Seni berisiko berubah dari ruang refleksi menjadi produk cepat konsumsi. Di tengah otomatisasi, justru pengalaman manusia menjadi nilai yang langka.

Penonton tidak lagi mencari kesempurnaan teknis karena mesin dapat mencapainya. Kejujuran pengalaman kemudian menjadi barang yang langka. Penonton yang manusia ini, tentu masih ingin merasakan jejak kehidupan di balik karya: kegelisahan, konflik, ingatan, dan konteks sosial.

Peran seniman pun bergeser. Ia bukan lagi sekadar pencipta bentuk, tetapi kurator nilai-nilai. Ia memilih bagaimana teknologi digunakan, konteks apa yang dipertahankan, dan nilai apa yang ingin disampaikan. Seniman menjadi penjaga kemanusiaan dalam ekosistem yang semakin otomatis.

Namun sikap kritis tetap diperlukan. Tanpa regulasi dan kesadaran kolektif, dominasi perusahaan teknologi dapat menciptakan ketimpangan baru dalam ekosistem seni global. Negara dan lembaga budaya perlu memperbarui kerangka kebijakan terkait hak cipta, perlindungan karya digital, dan sistem royalti berbasis data. Tanpa perlindungan ini, kreativitas manusia dapat menjadi bahan bakar gratis bagi industri teknologi.

Pertanyaannya bukan apakah AI harus diterima atau ditolak. Teknologi ini sudah hadir dan akan terus berkembang. Yang perlu ditentukan adalah “posisi seniman di dalamnya: sebagai pengguna sadar, sebagai pengkritik sistem, dan sebagai penjaga makna.”

Di era ketika mesin dapat menghasilkan bentuk dalam hitungan detik, nilai seni mungkin tidak lagi terletak pada kemampuan menghasilkan karya, tetapi pada kemampuan memberi makna. Dan selama manusia masih memiliki pengalaman hidup yang tak dapat direduksi menjadi data, seni akan tetap menemukan jalannya. Seharusnya.

Penulis: akademisi sekaligus seniman

Lebih baru Lebih lama