![]() |
| SOSOK: Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Selatan Firman Yusi - Foto Dok Istimewa |
RILISKALIMANTAN.COM, KALSEL – Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Selatan Firman Yusi menilai kopi asal Kalimantan Selatan memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional apabila didukung strategi pengembangan yang tepat.
“Saya optimistis, kopi Kalsel berpeluang masuk pasar dunia,” ujar Firman Yusi saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.
Firman yang merupakan alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin menyebutkan, pengembangan komoditas kopi daerah menjadi salah satu fokus perhatiannya sejak bergabung di Komisi II DPRD Kalsel.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut mengungkapkan bahwa sejumlah sampel kopi Kalsel yang diuji oleh koleganya mulai menarik minat pasar Eropa. Hal ini dinilai menjadi sinyal positif bagi kopi lokal untuk bersaing di tingkat global.
Meski demikian, Firman menegaskan bahwa peluang tersebut harus diiringi kesiapan menghadapi tantangan kebijakan perdagangan internasional.
“Ada informasi krusial yang perlu menjadi konsen bersama, khususnya terkait kebijakan perdagangan internasional,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Uni Eropa telah mengesahkan European Union Deforestation Regulation (EUDR) pada 29 Juni 2023. Regulasi tersebut mewajibkan setiap produk yang masuk ke pasar Uni Eropa untuk membuktikan bahwa komoditasnya bebas dari deforestasi dan diproduksi sesuai dengan hukum negara asal.
“Bagi produsen kopi dunia, kebijakan ini menjadi alarm sekaligus kompas baru,” jelas Firman.
Menurutnya, meski EUDR menghadirkan tantangan, regulasi tersebut juga membuka peluang bagi kopi Kalsel untuk meningkatkan daya saing sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Justru di balik standar tinggi EUDR terdapat peluang untuk memperkuat kedaulatan petani, menjaga sisa hutan Kalimantan, serta meningkatkan nilai dan martabat kopi Kalsel di pasar internasional,” katanya.
Firman menambahkan, keberhasilan menghadapi tantangan tersebut memerlukan kolaborasi lintas sektor, inovasi berkelanjutan, serta komitmen jangka panjang dari seluruh pemangku kepentingan.
“Dengan kerja keras bersama, EUDR bukan menjadi akhir cerita, melainkan awal babak baru kopi Kalsel yang lebih lestari, lebih adil, dan lebih bermakna,” pungkasnya.
Sumber: Nett

