Trending

Puja Mandela Rilis “Baru Kemarin”, Tentang Waktu yang Bergerak Terlalu Cepat


“Rasanya baru kemarin / kau berteriak di ruang bersalin. Rasanya baru kemarin / susu hangat kubuat terlalu dingin.”

Dua baris lirik itu diambil dari lagu “Baru Kemarin”, single terbaru Puja Mandela yang dirilis pada 19 September 2026. Ini merupakan single kelima dari jurnalis dan musisi asal Batulicin tersebut.

Lagu ini kembali mempertemukan Puja Mandela dengan Prima Yuda Prawira sebagai produser. Dalam proses rekamannya, Puja mengajak Erwin Sebastian, bassis Senja Djingga, untuk mengisi gitar ritme dan bass. Puja sendiri mengisi vokal, lead gitar, dan harmonika, sementara Yuda memainkan drum.

“Baru Kemarin” menggunakan lirik yang berjalan terus tanpa pengulangan. Setiap bagian membawa kalimat dan cerita baru. Pendekatan ini bukan hal baru dalam karya Puja Mandela. Ia menggunakan pola serupa dalam sejumlah lagunya, seperti “Rubrik Bencana”, “Cerita yang Lalu”, dan “Batulicin”.

Lagu ini berbicara tentang waktu yang bergerak cepat, seseorang yang tumbuh dewasa, serta nasihat dari orang yang lebih dulu menjalani hidup.

Puja mendapat pemantik awal untuk menulis lagu ini setelah mendengarkan “Semacam Kasih Sayang” dari The Panasdalam Bank, karya Pidi Baiq. Dari sana, ia mengembangkan gagasan tersebut ke pengalaman dan ceritanya sendiri.


“Di bagian awal, sebenarnya saya merasa berdialog dengan diri saya sendiri di masa lalu. Karena itulah covernya adalah potret saya saat berusia dua tahun,” jelasnya.

Video musik “Baru Kemarin” digarap oleh Wisjie, pemuda kreatif asal Satui. Video tersebut menampilkan Puja bersama tokoh masyarakat Pagatan, Andi S. Jaya, serta Nada, anak Puja Mandela.

Dalam sejumlah adegan memperlihatkan Andi Jaya dan Puja Mandela berada di sebuah rumah kayu yang dipenuhi album foto klasik dan kaset pita, terlihat klasik dan penuh nostalgia. 

Meski terpaut usia cukup jauh, Andi Jaya lahir pada 1963, sementara Puja lahir pada 1989, keduanya telah bersahabat cukup lama. Kehadiran Nada kemudian membawa cerita ke generasi berikutnya.

Jika “Batulicin” merekam ingatan melalui sebuah kota, “Baru Kemarin” bergerak lebih dekat, merekam pertumbuhan seseorang dan hubungan antara orang tua, anak, serta waktu.

***


Lebih baru Lebih lama